Ada Kekuatan dalam Cerita

Diah Rahmawati | @diahcmut

Saya suka sekali cerita tentang perjuangan orang yang sukses meraih impian-impian mereka. Bukan melulu tentang meraih harta, tetapi meraih apa yang benar-benar memberikan mereka kebahagiaan. Saya menyukai cerita seperti itu, yang dibuat “berdarah-darah” hingga akhirnya berhasil melambungkan namanya.

Cerita merupakan salah satu media penyampai pesan. Bisa juga diselipkan hikmah, teori pengetahuan, hingga pesan rahasia. Cerita ditangkap oleh otak kanan yang menangani segala bentuk kreasi dan bahasa. Sedangkan teori ditangkap oleh otak kiri yang menangani logika. Lalu apa maksudnya? Otak kanan merupakan pusat memori jangka panjang alias long term,  sedangkan otak kiri adalah memori jangka pendek atau short term. Pernahkah membaca teori berlembar-lembar, tetapi tetap saja tidak paham? Kemudian teori tersebut disampaikan dalam bentuk komik atau cerita dan seketika mudah dipahami? Itulah uniknya sebuah cerita.

Bahkan ada kekuatan dalam sebuah cerita. Bagi pendengar, cerita dari orang lain memberi inspirasi, motivasi, dan pengetahuan baru. Sebuah cerita menjadi semakin menarik ketika sesuai dengan value dan keadaannya. Cerita akan menjadi pendukung dari pendapatnya atau malah menjadi solusi atas permasalahan yang sedang dihadapinya.

Begitu pula bagi pencerita. Dengan bercerita, pencerita leluasa menuangkan uneg-unegnya, baik secara lisan maupun tulisan. Dia merasa mampu menyusun kepingan-kepingan kejadian agar dapat dikomunikasikan ke orang lain. Tak jarang hal ini memunculkan keyakinan dan kemampuan dirinya untuk menemukan benang merah dari segala kejadian yang menyertainya.

Tidak banyak orang yang sanggup curhat. Baik curhat ke orang lain maupun ke diary. Namun, apa yang menyesakkan dalam hidup bisa tersalurkan dengan bercerita, baik lisan maupun tulisan, sehingga dia terhindar dari depresi. Menuangkan cerita melalui tulisan juga mampu membuat pencerita memandang masalahnya dengan lebih baik. Melihat keseluruhan masalah dalam satu bingkai, menemukan ketidakkonsistenan atau kejanggalan, kemudian menarik satu kesimpulan untuk dijadikan solusi. Ya, kadang pencerita tidak butuh nasihat apa pun, tetapi hanya butuh tempat penuangan cerita. Itulah menariknya sebuah cerita.

Sebuah hidayah pun dapat datang dari sebuah cerita. Meski saya belum sepenuhnya mendapat hidayah yang sebenarnya, tapi saya merasa bahwa Allah bercerita melalui orang-orang di sekitar saya.

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read

Berkata Baik atau Diam

Usai menghadiri pernikahan keponakan di Jakarta, kami menyempatkan diri jalan-jalan ke Kota Lama keesokan harinya. Sesampainya di stasiun akhir Transjakarta, tempat kami turun, kami melihat

Read More »