Apa yang Diperhatikan Menentukan Kualitas Hidup

Yang pernah menyunting naskah pasti paham gimana rasanya menemukan kesalahan sepele saat naskah sudah terbit jadi buku. Ingin rasanya pinjam mesin waktunya Doraemon lalu kembali ke masa sebelum buku itu masuk cetak. Tapi mau gimana lagi, naskah sudah terlanjur jadi buku. Yang sudah terjadi tak bisa diulang kembali. Berdoa saja semoga cetak ulang agar bisa direvisi di cetakan kedua.

Saya pernah mengalami perasaan serupa ketika menyadari ulah tanda ”titik” di buku yang saya kerjakan. Awalnya saya sangat puas saat buku tersebut pertama kali tiba di meja kantor. Apalagi buku tersebut saya kerjakan sepenuh hati dengan upaya maksimal, berharap naskah mentah berhasil menjadi buku sempurna baik penulisan maupun materi isinya. Rasanya puas sekali. Seperti telah membuat buku terbaik sedunia.

Saya beranikan diri scanning per halaman untuk cek hasil cetak. Puas rasanya melihat hasil cetakan yang sesuai dengan yang diharapkan. Hingga akhirnya saya tiba di halaman akhir, tepat di bagian Tentang Penulis. Seketika saya merasa kecewa sejadi-jadinya saat sadar tidak ada tanda baca titik di akhir kalimat. Mood yang semula di puncak jatuh bebas dan hancur berkeping-keping. Meskipun ketiadaan titik sama sekali tidak mengubah arti dan esensi buku, namun hal tersebut menjadikan buku tersebut terlihat ”tidak sempurna”.

Padahal materi buku sama sekali tidak berubah. Tetap saja sempurna seperti saat pertama kali saya melihat buku tersebut. Bahkan saya bisa yakin pembaca tidak mempermasalahkan hilangnya tanda titik di akhir halaman. Mereka malah lebih peduli dengan pelajaran di dalamnya, ilustrasi super kecenya, dan malam pertama Hamish-Raisha. Sayangnya pikiran saya tidak berkata demikian. Saya hanya melihat kecerobohan yang telah saya lakukan. Fatal sekali.

Tidak ada yang salah dengan buku tersebut. Buku tersebut masih sama seperti sediakala. Masih penuh inspirasi bagi pembaca. Masih menarik dengan ilustrasinya. Bukankah itu sudah cukup jadi indikator sempurna bagi sebuah buku? Namun perhatian sayalah yang membuat sang buku jadi “tidak sempurna”. Perhatian saya atas apa yang tidak ada, atas apa yang keliru, atas kecerobohan yang saya lakukan, itulah sumber ketidakbahagiaan. Jika saja kesalahan kecil tadi tidak diperhatikan, saya akan tetap merasa bahagia seperti saat menerimanya pertama kali.

Dalam buku Awakening the Giant Within, Tony Robbins menyampaikan, what we focus on determines how we feel. And how we feel-our state of mind-powerfully influences our actions and interactions. Apa yang kita perhatikan ternyata bisa berpengaruh pada apa yang kita rasakan. Ketika fokus memperhatikan “kesalahan titik” dan mengabaikan kesempurnaan lain yang ada di dalam buku, saya jadi melihat buku yang tidak sempurna. Ketika terlalu memperhatikan apa yang berjalan buruk, yang ada hanyalah keluhan dan kecewa. Bahkan kita pun merasa dunia seburuk-buruknya tempat. Lain halnya ketika memperhatikan apa yang ada, apa yang sempurna, apa yang baik. Kita bisa bersyukur telah memiliki banyak kebaikan tersebut. Dunia seketika menjadi tempat yang menyenangkan.

Lalu apakah kita harus jadi orang yang apatis agar selalu bahagia? Akan sangat egois ketika kita tidak peduli dengan kesalahan hanya untuk menghindari kesedihan dan mengejar kebahagiaan. Manusia sebagai makhluk yang erat hubungannya dengan salah dan khilaf pasti melakukan kesalahan dalam hidupnya. Jadi wajar jika sesekali keliru. Yang penting adalah sikap menerima dan memperbaiki kesalahan tersebut. Tetap syukuri dan hargai apa yang berjalan baik tanpa harus berlarut-larut dalam ketidakbahagiaan hanya karena terlalu memperhatikan sebuah kesalahan.

Jadikan kesalahan sebagai pembelajaran untuk melakukan hal yang lebih baik setelahnya. Bagaimana pun kesempurnaan hanya milik Sang Mahasempurna. Manusia sebagai makhluk yang tak luput dari kekeliruan hanya bisa berupaya. Upaya yang disungguhi itulah yang mengantarkan kita menjadi insan yang lebih baik ke depannya.

 

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018 All rights Reserved. Powered by Elementor.
Design by pondrafee.