Apa yang Saya Pelajari dari Tanaman Layu

Pagi ini saya dikagetkan oleh tanaman yang sudah saya tanam sejak sekitar dua atau tiga minggu yang lalu. Beberapa hari belakangan, saya memang sedang malas-malasnya menyiram tanaman. Alasannya sepele, saya menganggap tidak menyiram tanaman selama sehari dua hari tidak masalah. Namun ternyata yang terjadi malah di luar dugaan. Tanaman tersebut langsung layu tanpa punya harapan hidup. Yang tersisa hanya penyesalan, penyesalan, dan penyesalan.

Sebenarnya saya selalu punya cadangan air dari sisa air wudu yang saya tampung. Tetapi beberapa hari belakangan selalu saja ada perasaan malas untuk menyiram. Saya berpikir tanaman tersebut akan baik-baik saja jika tidak disiram sehari dua hari. Berawal dari perasaan malas sehari, berlanjut hingga dua, tiga, sampai beberapa hari. Dan tepat tadi pagi ketika semangat ingin menyiram tiba-tiba muncul lagi, tanaman tersebut telah mengering semua.

Tanaman melatih cinta tanpa syarat. Ia tidak tumbuh dengan sendirinya. Butuh perawatan dan komitmen nyata dalam menumbuhkannya. Tidak bisa hari ini kita menanam, esoknya menyiram, dan di hari ketiga tiba-tiba ia berbuah atau berbunga. Tidak sesederhana itu. Butuh konsistensi untuk menumbuhkannya hingga ia bisa memberi manfaat.

Tanaman selalu diibaratkan seperti pertumbuhan. Pertumbuhan dari yang kecil menjadi besar, dari yang lemah menjadi kuat, dari yang tak berdaya menjadi bermanfaat. Sama halnya dalam sebuah hubungan. Pada dasarnya, sebuah hubungan adalah sesuatu yang dinamis. Akan selalu ada dua kemungkinan, bertumbuh atau selesai.

Dalam sebuah hubungan, khususnya hubungan percintaan, yang dibutuhkan bukan hanya cinta (definisi dari perasaan suka yang meluap-luap dan keinginan untuk memiliki). Butuh juga kesungguhan hati dan komitmen dalam menumbuhkannya menjadi hubungan yang benar-benar dewasa. Butuh siraman berupa kepedulian, pengertian, dan tanggung jawab, yang tidak hanya dilakukan sekali saja, namun setiap saat, seumur hidup.

Menumbuhkan suatu hubungan tidak bisa dilakukan satu dua hari lalu libur beberapa hari kemudian. Jika tanaman saja bisa kering saat ditinggalkan sehari, bagaimana jadinya sebuah hubungan yang diabaikan hingga beberapa minggu, bulan, atau bahkan tahun? Dengan komitmen untuk menumbuhkannya setiap saat itulah hubungan yang baik akan tercipta. Sebuah hubungan tidak hanya tumbuh semakin erat, namun tiap individu di dalamnya juga tumbuh menjadi pribadi yang dewasa.

Jika pada akhirnya tanaman memberi manfaat berupa bunga atau buah, maka sebuah hubungan pada dasarnya telah menjadi manfaat. Tinggal bagaimana kita memaksimalkan manfaat tersebut agar senantiasa memberi kebaikan dalam setiap fasenya. Tidak hanya bagi diri sendiri dan pasangan, namun juga untuk lingkungan sekitar dan orang lain.

 

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read