Ayah Terkeren Sedunia

Yasmin Nabila

img-X17070058-0001

“Fathers, be good to your daughters. Daughters will love like you do.” (John Mayer – Daughters)

Setiap dengar kata “ayah”, yang terbayang adalah sosok kepala keluarga yang rela kerja keras demi istri dan anak-anaknya. Tangguh dan selalu menjaga kami semua.

Sampai saat ini aku selalu merasa ayahku adalah ayah terkeren sedunia (mungkin setiap anak di dunia juga punya pikiran yang sama tentang ayahnya). Aku gak tau ini keren versi siapa, yang jelas keren versiku sendiri, hehe. Kayaknya tanpa sadar aku melakukan banyak hal karena terinspirasi gaya Papa (oh iya, aku memanggil Ayah dengan sebutan Papa).

Papa adalah orang yang mengenalkanku pada hobi membaca. Novel pertama yang aku habiskan adalah Harry Potter dan sampai sekarang Harry Potter jadi salah satu hal favoritku. Papa juga bikin aku suka fotografi, dimulai dari lihat koleksi hasil foto Papa yang beralbum-album, sampai waktu Papa mengajakku untuk pergi ke tempat cuci cetak foto (waktu itu belum punya kamera digital) dan excited untuk liat hasil fotoku setelah pegang kamera pertama kali.

Itu mungkin pendapatku pribadi. Kalau buat kami sekeluarga, Papa adalah ayah yang berprinsip, selalu openminded, dan punya caranya sendiri dalam mendukung keputusan kami. Walaupun kadang didikan beliau keras, khususnya menyangkut agama, semakin besar aku jadi semakin paham apa tujuan beliau. Papa gak bisa selamanya jaga kami di dunia ini, jadi kami pun harus bisa menjaga diri sendiri, baik di dunia maupun kehidupan selanjutnya nanti.

Ada cerita menarik yang aku ingat terus sampai sekarang. Dulu sekali, aku lupa tepatnya kapan, Papa pernah kasih lihat aku gambar tentang alam semesta. Di gambar pertama, terlihat perbandingan Indonesia dengan negara di  bumi lainnya. Bumi rasanya luas banget, pasti butuh waktu lama untuk bisa habis mengunjungi semua tempat yang ada. Padahal sampai sekarang kota tempat tinggal saja terasa sangat luas.

Gambar kedua, bumi disandingkan dengan planet-planet tetangga yang sama-sama bergerak mengelilingi matahari dalam sistem tata surya. Bumi jadi kecil banget, apalagi dibandingkan matahari.

Gambar ketiga, semakin menjauh. Ternyata matahari pun masih kalah besar dengan bintang-bintang lainnya di galaksi Bima Sakti, yang berisi 100-400 miliar bintang.

Gambar keempat, galaksi Bima Sakti pun bukan apa-apa karena masih ada ratusan miliar galaksi lainnya di alam semesta.

Setelah selesai, Papa menjelaskan bahwa beliau memperlihatkan hal ini untuk mendeskripsikan betapa tidak signifikannya manusia di dunia. Sangat kecil, tidak terlihat. Papa bilang, ”Kalau lagi malas beribadah, ingat cerita ini. Cerita soal kuasa Tuhan YME, yang menciptakan bumi dan seisinya. Yang selalu memberikan kesehatan dan juga banyak hal yang kita inginkan, walaupun kita sangat tidak berarti bagi-Nya.”

Hal itu gak hanya mengena secara spiritual, namun aku juga jadi tertarik untuk tau lebih banyak soal alam semesta. Aku jadi banyak baca artikel tentang astronomi, semangat banget kalau ada kesempatan ke planetarium. Sampai sekarang pun aku juga masih mengkhayal jadi astronot untuk lihat Bumi dari atas sana. Tapi apa daya, hehe. Lihat update Twitter-nya astronot NASA aja juga udah seneng kok!

Yang pasti Papa adalah inspirasi terbesarku sampai sekarang. Seandainya aku dipertemukan sama Papa dalam mimpi, aku bakal bilang terima kasih karena telah mendidikku dengan baik. Oh, aku juga ingin bilang untuk jangan pernah khawatir karena sekarang aku dan adikku sudah bisa menjaga diri, bahkan bisa jaga Mama juga, hehe. I love you, Pops.

 

 

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read