Balada Koma, Titik, dan Kepemimpinan

coldplay___mylo_xyloto__alternate_album_cover_1__by_rrpjdisc-d7oe37h

 

“Don’t want to see another generation drop.
I’d rather be a comma than a full stop.”
Coldplay, Every Teardrop Is A Waterfall

 

Dulu ketika masih duduk di bangku SD, kita sering mendapat wejangan dari guru-guru tercinta bahwa kitalah yang akan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan. Kitalah yang akan menggantikan para pemimpin bangsa dari generasi sebelumnya. Akan tetapi, setelah beranjak dewasa kita malah dihantam oleh beragam masalah hingga tak berdaya, mulai dari skripsi, jenjang studi, karir, kisah asmara (ini yang paling kurang ajar), finansial, dan lain sebagainya. Kita kemudian ragu dan galau, apakah benar kitalah yang terpilih menjadi pemimpin-pemimpin yang dimaksud? Apakah Pak Guru dan Bu Guru nan terhormat sadar ketika mengucapkan kata-kata keramat tersebut? Jangan-jangan itu hanyalah trik agar kita tidak tidur di dalam kelas.

Bisa jadi Pak Guru dan Bu Guru tidak seratus persen benar, namun tidak juga seratus persen salah. Ada maksud tertentu yang ingin mereka sampaikan untuk memotivasi anak didiknya agar tidak takut menghadapi masa depan (atau malah cuci tangan dan menumpukkan beban tanggung jawab di atas pundak anak didiknya? entahlah).

Apabila kita menciptakan di dalam pikiran sosok pemimpin hanya sebatas orang-orang yang duduk di gedung parlemen, berada di posisi tertinggi suatu perusahaan, menjadi bos eksekutif, kepala BUMN, menteri, dan lain sebagainya, sudah pasti kita semakin terpuruk membandingkan realita dan ekspektasi mereka. Tidak semua memiliki kesempatan yang sama untuk duduk manis di posisi tersebut ketika masih menjalani fase kelabilan seorang anak muda.

Coba kita rendahkan hati dan memijak tanah. Sudah banyak teks dari langit maupun bumi yang menyatakan bahwa pada dasarnya kita adalah pemimpin bagi diri sendiri. Jika dijabarkan lebih luas, kita adalah pemimpin bagi diri sendiri, keluarga, orang-orang di sekitar kita, hingga kemudian masyarakat. Lalu sudahkah kita melihat diri sendiri di dalam otak kita sebagai seorang pemimpin? Jika belum, mulai sekarang cobalah untuk membayangkannya. Jika sudah, apakah kita melihat diri kita sebagai sosok pemimpin yang kita harapkan? Sudahkah kita melihat diri kita sebagai sosok yang kita cintai apa adanya? Sosok yang akan kita sayangi hingga akhirnya dibaringkan bersama cacing di dalam tanah? Jika jawabannya ’belum’, berarti itulah yang menjadi masalahnya. Kita kurang percaya diri dengan diri sendiri hingga merasa tidak pantas mendapat label seorang ’pemimpin’. Tidak perlu berpikir terlalu muluk untuk menjadi seorang pemimpin, cukuplah menjadi diri sendiri. Kita adalah seorang pemimpin, terutama bagi diri sendiri.

Kemudian kita juga dihadapkan pada peran sebagai pemimpin dalam keluarga. Apakah sebagai anak kita telah menjadi sosok yang berbakti kepada orang tua? Sosok yang menghargai keluarga besar? Sebagai saudara apakah kita telah menjadi sosok terbaik bagi saudara kandung kita? Bagi yang telah berkeluarga, apakah sudah menjadi sosok terbaik bagi pasangan dan anak-anak? Membina hubungan keluarga tidak bisa dijalankan ala kadarnya dan autopilot. Butuh figur pemimpin untuk membawa keluarga bertahan hidup menyusuri kencangnya gelombang kehidupan.

Sedangkan di dalam masyarakat, apakah ada manfaat yang telah kita berikan? Untuk tetangga di sekitar kita misalnya? Atau lingkungan di mana kita berada? Atau untuk kota kelahiran yang kita tinggalkan demi menjemput rezeki di kota lain? Mereka memang tidak berteriak meminta tolong, namun kita akan memberikan nilai lebih dalam hidup saat mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Sekecil apa pun yang telah kita lakukan, jika hal itu memberikan ’meaning’ kepada orang lain dan alam semesta, gaung dari ’meaning’ tersebut akan berbalik kembali kepada kita. Mata kita pun akan terbuka untuk melihat kehidupan sebagai tempat yang lebih bermakna. Alangkah indah jika kelak kita mampu meninggalkan sebuah kesan baik bagi dunia, bukan hanya sekadar nama.

Menjadi manusia berarti menjadi makhluk yang bertanggung jawab bagi diri sendiri dan orang lain. Kita mungkin menanggung beban dari generasi sebelumnya dan tertimpa beban tanggung jawab generasi kita sendiri. Lalu apakah kita akan dengan bangga mewariskan beban yang jauh lebih besar kepada generasi selanjutnya? Ibarat OSPEK, apakah kita akan terus melanggengkan tradisi galak-galakan kepada dedek-dedek gemes berikutnya? Mungkin jika beralasan untuk melatih kedisiplinan, itu bisa dimaklumi, tapi jika hanya sebagai ajang balas dendam, itu tidak keren sama sekali.

Syarat menjadi pemimpin sebenarnya tidak harus selalu melakukan hal-hal heroik. Tak perlu kita mengarungi tujuh samudera, menebas kepala monster hutan, menyelamatkan kucing dari ledakan gunung berapi, ataupun melakukan adegan-adegan hiperbolis Hollywood lainnya (silakan tambahkan sendiri, saya yakin sebagian besar dari kita hafal beragam adegan tak masuk akalnya Michael Bay). Dalam kehidupan nyata ini, tidak perlu menjadi sosok seperti itu, cukup menjadi diri sendiri dan memaksimalkan potensi yang kita miliki. Lagi-lagi hal tersebut tak akan tercapai jika kita tidak mencintai diri sendiri. Berkubang dalam kekecewaan dan keraguan memang menyenangkan, namun tidak memberikan manfaat jika terlalu lama dilakukan.

Tidak apa-apa jika berhenti sejenak dan merenungkan apa yang telah kita lalui. Mungkin kita merasa kecewa karena rasanya tidak ada hal besar yang telah kita lakukan. Namun seandainya kita mau melihat lebih jeli, ada hal yang sebenarnya telah kita capai. Sekecil apa pun itu, itulah hal yang benar-benar kita raih dan lewati. Di depan sana tentu akan banyak kesempatan lain untuk digapai. Mulailah mempersiapkannya dari sekarang. Tidak apa-apa jika berhenti untuk sejenak beristirahat, yang terpenting kita tetap melanjutkan perjalanan apa pun rintangannya. Tidak masalah ketika kita menemui sebuah “koma”. Selagi Sang Penulis belum memberikan tanda “titik”, masih terbuka luas kesempatan untuk melanjutkan cerita.

 

 

 

 

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

5 Replies to “Balada Koma, Titik, dan Kepemimpinan”

  1. tulisannya bagusss sekali pondra. terima kasih atas pencerahannya yg mengingatkan kembali tentang sisi pemimpin yg sebenarnya ada dalam diri kita masing2.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018 All rights Reserved. Powered by Elementor.
Design by pondrafee.