Berawal dari Kekacauan

Kami termasuk pasangan yang gemar melihat bintang di malam hari. Bagi kami, bintang dengan keindahannya memiliki arti yang filosofis; lentera, infinity, harapan, dan beragam makna berbeda bagi setiap orang. Kami juga sepakat bahwa jiwa manusia tak jauh berbeda dengan bintang. Mungkin karena manusia merupakan bagian dari semesta.

Meskipun tampak gemerlap dari bawah sini, proses pembentukan bintang tak lepas dari kekacauan. Secara garis besar, pembentukan bintang dimulai saat terjadi ketidakstabilan gravitasi di dalam awan molekul. Ketidakstabilan tersebut dipicu oleh gelombang kejut dari supernova atau tumbukan antara dua galaksi. Ketika kerapatan materi sudah memenuhi syarat, awan tersebut mulai runtuh karena gaya gravitasinya sendiri. Keruntuhan inilah yang nanti menjadi bintang-bintang baru mengisi gugusan alam semesta.

Pembentukan bintang bermula dari ketidakseimbangan yang diasosiasikan dengan kekacauan, kegemparan, dan ketidaknyamanan—segala sesuatu yang berhubungan dengan ketidakteraturan. Setelah ketidakseimbangan berakhir, terbentuklah bintang-bintang baru yang menghiasi jagat semesta.

Sama halnya dalam diri manusia. Ada kalanya manusia mengalami ketidakseimbangan, baik emosi maupun pikiran, yang menciptakan kekacauan dan ketidaknyamanan. Bahkan tak sedikit mereka yang terguncang dan nekat melakukan hal-hal yang membahayakan.

Pada dasarnya kekacauan itulah awal dari proses pembentukan bintang di dalam diri. Kekacauan adalah jalan untuk naik ke level selanjutnya. Bagaimana seseorang menghadapi kekacauan dalam diri mereka itulah yang akan berpengaruh pada kehidupannya.

Proses tersebut memang terasa menyakitkan, melelahkan, menyedihkan, bahkan melemahkan. Namun hukum alam menyatakan bahwa segala sesuatu ada masanya. Ada saatnya kekacauan mereda dan berganti dengan ketenangan. Inilah proses pendewasaan, proses pembentukan bintang-bintang baru dalam diri manusia yang berupa kebijaksanaan, pengetahuan, atau sifat yang memperkaya jiwa.

Kami selalu percaya bahwa ketika seseorang merasakan ketidakseimbangan di dalam diri, yang terjadi adalah alam semesta di dalam sana sedang bergejolak untuk mencipta bintang baru. This too shall pass. Proses tersebut pasti berlalu. Kita punya pilihan dalam prosesnya, apakah menyalurkan kegelisahan dengan tindakan yang membangun atau malah menghancurkan. Dampak dari setiap pilihan tentunya berbeda. Namun akan lebih menyenangkan melihat bintang baru yang tercipta di dalam sana bersinar terang menerangi jiwa, bukan malah hancur tak bersisa.

 

Make my messes matter, make this chaos count. Let every little fracture in me shatter out loud.” Sleeping at Last – Jupiter

 

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018 All rights Reserved. Powered by Elementor.
Design by pondrafee.