Berkata Baik atau Diam

Usai menghadiri pernikahan keponakan di Jakarta, kami menyempatkan diri jalan-jalan ke Kota Lama keesokan harinya. Sesampainya di stasiun akhir Transjakarta, tempat kami turun, kami melihat MMT Gunung Fuji terpampang di dinding koridor tepat beberapa meter sebelum pintu keluar. Kemungkinan gambar tersebut digunakan untuk memperindah koridor yang sumpek, selain dijadikan tempat selfie oleh pejalan kaki yang jenuh dengan kepenatan ibu kota. Walaupun kami tidak mengambil foto di sana, namun saya spontan berkata kepada istri, “Kapan-kapan ke Jepang yuk. Nonton Gunung Fuji.” Mantap dan yakin. Dengan antusias, dia menjawab, “Yuk!”. Padahal kami sama-sama tidak punya bayangan bagaimana cara ke sana.

Meskipun pada awalnya kami tidak terbayang proses untuk mencapainya, beberapa bulan kemudian kami akhirnya menginjakkan kaki di Jepang. Tepat di depan Gunung Fuji seperti yang kami bicarakan sebelumnya. Kalau kata Paulo Coelho: when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.

Ucapan adalah doa, meski terkadang kita belum sepenuh hati memercayainya. Mungkin alasan itu pulalah yang mendasari adanya hadis yang menganjurkan umat manusia untuk berkata baik atau diam (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47). Saya jadi berpikir, mungkin selain untuk menjaga hati pendengarnya, kata yang telah terucap berkemungkinan mewujud menjadi nyata. Kata yang baik menciptakan sesuatu yang baik. Sebaliknya kata yang buruk mewujudkan hal yang buruk pula.

Contoh sederhananya seperti ini. Bayangkan seorang atasan yang membentak karyawannya, “Bodoh! Kayak gini aja gak bisa!” Disertai nada tinggi dan wajah masam. Sudah pasti sang karyawan tersinggung dan dendam dengan atasannya. Lebih parah lagi sang karyawan secara tidak sadar meyakini bahwa dirinya memang bodoh dan tidak becus dalam bekerja. Keyakinannya pun berpengaruh pada kinerjanya. Apa pun yang dikerjakan setelahnya jadi tidak optimal.

Lain halnya ketika atasan menegur, “Hasilnya memang belum optimal, tapi sudah ada peningkatan. Besok coba lagi yang lebih baik.” Karyawan akan merasa lebih dihargai dan tidak sepenuhnya minder dengan kekurangannya. Dampaknya, dia akan berusaha menyelesaikan pekerjaan dengan lebih baik. Kata yang baik, output yang baik. Contoh tersebut tidak hanya berlaku sebatas atasan dan karyawan saja. Siapa pun dapat, atau mungkin pernah, mengalaminya: obrolan antar teman, nasihat orang tua kepada anak, teguran suami kepada istri, komentar orang yang tidak saling mengenal di media sosial, dan bahkan percakapan diri yang terjadi dalam pikiran kita di malam hari.

Kata-kata memang sepele, tapi dampaknya sungguh terasa. Terlebih jika kata-kata tersebut disampaikan dengan perasaan. Realita akan tercipta karenanya. Sama halnya ketika kami berkata penuh keyakinan tentang keinginan ke Jepang melihat Gunung Fuji. Kata-kata tersebut memang terdengar sepele, namun menjadi doa yang pada akhirnya mewujud sebagai pengalaman. Untung saat itu salah satu dari kami tidak menjawab dengan keraguan, “Ah, apa bisa ke sana? Bagaimana caranya? Ke Jepang kan mahal.” Kalau kalimat tersebut sampai terucap, pengalaman ini tidak pernah ada. Bagaimana mungkin keinginan akan terkabul jika yang berdoa saja tidak yakin dengan harapannya?

“Don’t ever diminish the power of words. Words move hearts and hearts move limbs.” -Hamza Yusuf

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read

”Lampu Merah” Perjalanan

Kehidupan layaknya perjalanan panjang dengan tujuan di dalamnya. Perjalanan tidak selalu mulus, ada saatnya melewati medan berkerikil, berkelok, berbukit, hingga berangin. Dalam perjalanan, kita pun

Read More »

Seize the Moment

Menikmati momen tanpa distraksi kamera sering bikin generasi milenial khawatir. Khawatir kalau momen itu hilang tak berbekas. Khawatir kalau gak ada lagi akses untuk menikmatinya

Read More »