Cloud Cult: Mencari Spiritualitas Lewat The Seeker

Setelah album Love tahun 2013 yang bisa dibilang karya terbaik mereka, saya sempat skeptis apakah Cloud Cult bakal bisa menciptakan album yang sama baiknya dengan album tersebut, minimal tidak mengecewakan. 

Ketika single pertama mereka, No Hell, dirilis saya malah menjadi semakin skeptis akan album baru mereka nanti. Single tersebut memang tidak mengecewakan, namun terdengar kurang epic dibanding lagu-lagu terdahulu. OK, untuk tahun ini mereka boleh dimaafkan, setidaknya selama sepuluh tahun terakhir mereka telah menghasilkan karya-karya gemilang. Untuk yang belum tau band seperti apa itu Cloud Cult, biografi singkat berikut mungkin bisa menjadi petunjuk.

Short bio: 
Cloud Cult began as Craig Minowa’s solo studio project, and over the course of ten studio albums the band has grown with an evolving lineup of musicians. Cloud Cult has received accolades including MTV, New York Times, Entertainment Weekly and has had several albums at the top of the college radio charts. They’ve declined major record label deals in favor of staying independent. Rollingstone ranks Cloud Cult in the Top 10 greenest bands. (www.cloudcult.com)

 

Memasuki tanggal rilis di bulan Februari 2016, keraguan saya terbantahkan ketika album The Seeker akhirnya keluar. Setelah memasang earphone dan menekan tombol play, track pertama pun dimulai. Saya langsung dibuat takjub karena diajak menyusuri lautan perasaan melalui alunan instrumental Living in Awe (Birth). Suatu pengalaman yang tidak saya duga. Terlebih lagi ini menjadi lagu latar trailer film yang juga mereka sutradarai berjudul sama, The Seeker. Bayangkan sinematografi ala The Trees of Life dipadukan dengan ambient-instrumental ala Rhian Sheehan. Right in that feel sekali pokoknya! Kehangatan rasa haru langsung berkumpul tepat ke dalam jantung saya. Apalagi di akhir lagu disisipi lirik singkat yang membuat lagu ini semakin lengkap dan siap sebagai pembuka keseluruhan album:


The Great Mystery cannot be solved.
There will be joy and grief,
but live it all in awe.

Yup, apa pun yang terjadi dalam timeline hidup kita ke depan nanti, jalani dengan kekaguman. Life is a blessing, right? Singkat, mengena, dan penuh harapan.

Lagu pertama langsung memberikan pesan inspiratif. Sebuah pembuka yang sempurna. Lalu bagaimana dengan lagu selanjutnya? To The Great Unknown memberikan kesan yang kurang lebih sama dengan lagu pertama. Hanya saja lebih menggugah hati untuk mulai bertindak, tidak hanya mengawang-awang dan merenungi apa yang akan dilakukan. Kepercayaan saya akan album ini pun sedikit demi sedikit bertambah.

Masuk ke lagu ketiga, Days to Remember, otak saya semakin yakin bahwa inilah album yang benar-benar saya cari. Hentakan drum dan kombinasi piano melipatgandakan semangat saya untuk segera bertindak dengan hidup saya. Kemudian memasuki lagu Time Machine Invention yang terdengar seperti aransemen lagu klasik mereka, Fairy Tale, dengan perubahan lirik tentang seorang pengelana waktu, telah berhasil menghipnotis saya untuk mulai menghargai saat ini, detik ini, dan hari ini:

I’ve finally solved the puzzle of my time machine invention.
You see, in the future, this present is the past, so
If you give this moment your fullest attention
We’ll just keep going forwards with no need for going back.

Memasuki lagu-lagu selanjutnya, saya semakin dibuat percaya bahwa Cloud Cult telah berhasil menciptakan album yang lebih baik dari sebelumnya. Formula yang mereka ciptakan memang tidak se-ngerock album Love, dan rasanya mereka jauh lebih mengerti bahwa ada area lain dalam musik mereka yang dapat dimaksimalkan sebagai album ke-10: lirik yang lebih spiritual, ambient yang lebih terasa, petikan akustik yang lebih menonjol, dan permainan piano yang lebih hidup. Kombinasi yang menciptakan album The Seeker semakin istimewa. Tidak perlu mengulangi resep ”seriang dan sekeras” Love. Menjadi kontemplatif saja ternyata sudah lebih dari cukup.

Sudah 6 bulan sejak pertama kali saya mendengarkan album ini, saya pun semakin merasakan perjalanan spiritual layaknya yang disampaikan dalam album The Seeker. Sebagai makhluk spiritual yang merasakan pengalaman dunia, manusia pada dasarnya akan selalu mencari cara untuk merasakan pengalaman transendental dari mana mereka berasal. Pengalaman yang akan memperkaya jiwa, mendorong untuk berani menghadapi ketidakpastian, keberanian merasakan suka duka, menikmati saat sekarang, move on dari kekecewaan, dan menjadi positif di setiap kesempatan. Pada akhirnya kita diingatkan untuk menjadi manusia seutuhnya, manusia yang tidak hanya hidup untuk diri sendiri namun juga untuk orang lain dan seluruh alam beserta segala isinya. The Seeker telah berhasil memberikan pengalaman tersebut.

Bagi saya, The Seeker mengungguli album Love dan album-album Cloud Cult sebelumnya, dan Cloud Cult tetap menjadi band yang berhasil memperkaya pendengaran, kreatifitas, dan jiwa saya. Boleh dibilang merekalah satu-satunya band dari sekian ribu artis/band yang pernah saya dengarkan (sejak duduk di bangku TK hingga duduk menulis tulisan ini) yang berhasil mengubah saya secara emosional, perbuatan, spiritual, dan cara pandang dalam melihat dunia.

Cloud Cult 2015 by Graham Tolbert The Seeker

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

5 Replies to “Cloud Cult: Mencari Spiritualitas Lewat The Seeker”

  1. aku pernah denger lagu mereka tapi nggak se-intense dirimu ndra. mungkin hampir sama seperti sebagian band post rock, lagu-lagu inilah yang justru membebaskan imajinasi, perasaan, dan pikiran kita sehingga ada makna2 khusus yg muncul dr diri kita. nice review!

    1. wah pernah denger juga ya Ren. yang lagu apa nih? hehe awalnya aku jg gak begitu tertarik sama band ini, tapi setelah aku coba denger ulang dan pahami liriknya, plus tau go green ethic mereka, jadi langsung jatuh hati ama nih band.

    1. bukan folk sih Mas. Beberapa media ada yg bilang experimental, ada yang bilang indie rock, chamber rock, hard rock, alternative rock juga. tapi kalau saya pribadi sih lebih cenderung ke experimental rock Mas. lebih experimental dalam bebunyiannya (terutama di album-album yg lawas), tapi chord progressionnya lebih ke musik rock pada umumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read