Done Is Better Than Perfect

“If you spend too much time thinking about a thing, you’ll never get it done.” —Bruce Lee

Apakah kalian pernah mengerjakan pekerjaan, tetapi beralih ke pekerjaan lain sebelum pekerjaan tersebut selesai? Jika pernah, kalian tidak sendiri. Saya yakin kita semua pernah mengalami permasalahan yang sama. Sangat mengecewakan memang.

Saya sering merasakan pengalaman tersebut saat ingin menulis blog. Ada banyak sekali ide yang muncul dalam kepala saya untuk dituangkan menjadi tulisan utuh. Saat beberapa paragraf selesai, saya kemudian berhenti. Terkadang diiringi perasan bahwa tulisan tersebut tidak layak ditampilkan. Seketika saya merasa bahwa apa yang saya tulis penuh kesalahan. Hingga akhirnya saya tidak menyelesaikannya. Saya malas mencari referensi tambahan, malas merangkai kata, malas melanjutkan.

Beberapa hari kemudian saya pun beralih ke tulisan yang baru. Ironisnya kejadian yang sama terulang kembali. Saya tidak menyelesaikan tulisan yang baru saja saya mulai. Perasaan yang muncul sama: tidak yakin tulisan tersebut layak ditampilkan ke dalam blog karena banyak kekurangan sana-sini. Beberapa bulan kemudian saya menyadari bahwa tidak ada tulisan baru di blog saya. Saya semakin merasa buruk dengan diri sendiri.

Mengejar kesempurnaan akan membuat kita menunda menyelesaikan pekerjaan. Tidak hanya itu saja, kita juga menjadi takut untuk berkarya. Inilah salah satu penghalang kreativitas. Jika kita terlalu sering meninggalkan begitu saja apa yang telah kita mulai, kita akan terbiasa untuk tidak menyelesaikan pekerjaan. Bisa juga kita akan terbiasa untuk takut memulai karena merasa tidak yakin bahwa hasil dari apa yang kita kerjakan sempurna. Pada akhirnya kita tidak mengerjakan apa-apa.

Ada banyak sekali alasan kenapa kita menunda menyelesaiakan sebuah pekerjaan. Bisa jadi pekerjaan tersebut membosankan, tidak seketika terlihat manfaatnya, dan tidak ada makna yang jelas. Kita tentu tidak betah mengerjakan sesuatu yang menurut kita membosankan. Apalagi kita tidak melihat bahwa pekerjaan tersebut memberikan manfaat dan makna dalam hidup kita. Kita akan mudah sekali mundur dan membiarkan pekerjaan tersebut terbengkalai. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana jika pekerjaan tersebut sebenarnya bermanfaat bagi kita? Hanya saja tidak terlihat pada saat itu juga. Bukankah berarti kita telah membuang sebuah kesempatan emas? Jika kita selalu membuang kesempatan, kita tidak akan dapat berkembang menjadi lebih baik. Inilah yang perlu kita antisipasi.

Kabar baiknya, kita bisa melatih diri untuk mengantisipasi masalah tersebut. Yakni dengan mencari makna dari pekerjaan yang sedang atau akan kita kerjakan. Meskipun tampak membosankan, ketika kita mampu melihat apa yang kita kerjakan sebagai sesuatu yang bermakna, kita lebih mudah termotivasi untuk menyelesaikannya. Saat kita akhirnya berhasil menyelesaikannya, kita akan merasa lebih percaya diri dan puas dengan apa yang telah kita hasilkan.

Ambil contoh menulis blog. Meskipun saya menyukai kegiatan tulis-menulis, tetapi kebosanan tetap datang jika mengerjakannya setiap hari. Apalagi menulis blog tidak seketika menghasilkan imbalan secara finansial. Sudah pasti kebosanan dan perasaan mengerjakan hal yang sia-siang datang menghantui. Namun, jika saya melihat kegiatan tersebut sebagai jalan untuk berbagi pengalaman dan ilmu kepada orang lain, motivasi saya untuk menulis menjadi jauh lebih besar. Dengan motivasi yang lebih besar, kemungkinan apa yang saya tulis selesai juga akan jauh lebih besar.

Selesaikan pekerjaan yang telah kita dimulai. Tidak perlu mencari kesempurnaan, yang terpenting adalah menyelesaikannya. Bukan berarti asal-asalan mengerjakan, tetapi mengerjakannya sebaik yang kita bisa. Seoptimal mungkin. Kualitas akan meningkat dengan sendirinya jika konsisten menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan baik. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Akan selalu ada celah kesalahan atau ketidaksempurnaan. Namun, bukan berarti kita tidak menyelesaikan apa yang telah kita mulai. Done is always better than perfect.

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read

Satu Tahun Pernikahan

Tepat tanggal 5 Mei satu tahun yang lalu, saya mengucapkan ijab kabul untuk menikahi wanita cantik ini. Nggak nyangka ternyata prosesnya jauh bikin deg-degan dibanding

Read More »

Berkata Baik atau Diam

Usai menghadiri pernikahan keponakan di Jakarta, kami menyempatkan diri jalan-jalan ke Kota Lama keesokan harinya. Sesampainya di stasiun akhir Transjakarta, tempat kami turun, kami melihat

Read More »