Emo Sebagai Coping Mechanism

Rena Aprilia

 

Today I fell and felt better,
Just knowing this matters
I just feel stronger and sharper
Found a box of sharp objects what a beautiful thing

The Used – A Box Full of Sharp Objects

 

Sebenarnya saya kurang setuju jika harus memilih mana yang lebih baik antara dua sub-genre; metal atau emo. Karena sekarang saya tidak membatasi lagi musik yang saya dengarkan selama musik tersebut berada di genre yang sama. Rasanya juga kurang cocok jika citra individu disamakan dengan musik yang mereka dengar. Namun jika disuruh memilih apa yang saya dengar sekarang, saya memang telah beralih mendengarkan lagu band-band metal klasik karena lebih berdistorsi dan penuh semangat, seperti Megadeth, Deep Purple, Led Zeppelin, atau Metallica.

Sepertinya memang sudah lama sekali istilah emo tidak mampir dalam percakapan sehari-hari setelah saya pindah kota. Istilah ini pertama kali saya kenal waktu masih duduk di bangku SMA kemudian berlanjut ke bangku kuliah. Saya akui bahwa secara mental saya sedang berada dalam fase ‘pencarian’ jati diri. Belajar dari lirik dan musik band emo populer semacam The Used dan Taking Back Sunday inilah, saya merasa menemukan jati diri di sana. Serba sedih dan pesimis, apalagi tren anak milenial lokal dan internasional saat itu sedang meng-highlight emo sebagai acuan musik populer dan lifestyle.

Berlanjut ke pertengahan masa kuliah, saya belajar lebih dalam tentang musik emo. Dari keisengan belajar inilah saya semakin mengenal emo yang ternyata jauh dari perkiraan saya.Emo lebih dari sekadar lifestyle dan gaya. Istilah emo muncul secara underground sebagai bentuk pemberontakan non-mainstream anak muda dengan cara kreatif, satir, dan galau tentang dominasi budaya populer saat itu.

Namun bagi saya pribadi, emo tetaplah musik yang memang pernah saya dengarkan pada waktu yang tepat. Sehingga makna emo yang disuguhkan media besar dengan kesan negatif dan emosionalnya tetap mengena ke saya secara pribadi.

The Used adalah band emo favorit saya hingga sekarang. Inilah band yang ‘membuka’ pintu gerbang saya ke dunia emo pada tahun 2004 dan menghubungkan saya ke beberapa komunitas berpengaruh di masa remaja saya. Bahkan saya menggunakan band ini dan 10 video klip mereka untuk bahan skripsi saya. You write what you love!

Saya terkesan dengan lirik dari salah satu lagu mereka ”A Box Full of Sharp Objects”. Lirik tersebut berhasil ‘mengatasi’ rasa insecure saya waktu itu yang cukup parah. Selain itu, lagu bertema cinta juga saya setujui maknanya. Saya pernah membenci musik dan lirik bertema tersebut karena lebay. Tapi malah lirik lagu itulah yang pada akhirnya membawa saya mengenal cinta lebih dalam. Hahaha. ”Smother Me” menjadi soundtrack kisah hidup saya dengan pria emo dan menjadi soundtrack lagi beberapa tahun kemudian untuk awal kisah saya bersama pria metal belahan jiwa saya selama ini.

I found my place in the world
Could stare at your face for the rest of my days
Now I can breathe, turn my insides out and smother me
Warm and alive I’m all over you
Would you smother me?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

2 Replies to “Emo Sebagai Coping Mechanism”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read

Resep Kebahagiaan

Pernah gak sih marah, bete, kesel, atau kecewa pas denger omongan orang lain yang kurang nyenengin? Misal ada omongan tentang sikap kita yang mungkin bagi

Read More »

It’s a Boy!

Novia Chandra   “Maybe you’ll be president, but know right from wrong. Or in the flood you’ll build an Ark. And sail us to the

Read More »