Evening Machines by Gregory Alan Isakov

Sepertinya baru kemarin saya mendengar Gregory Alan Isakov dan album The Weatherman untuk pertama kali. Ternyata sudah lima tahun pengalaman tersebut berlalu. Time does really fly!

Boleh dibilang beberapa lagu Gregory Alan Isakov menjadi lagu latar yang membentuk masa dewasa saya yang dihadapkan pada tanggung jawab kerja, keluarga, impian, maupun arah kehidupan selanjutnya. Saya tidak menyangka jika sampai sekarang lagu-lagu tersebut masih sering saya dengarkan.

Tahun 2018 ini, album baru akhirnya dirilis: Evening Machines. Perkiraan saya tidak salah, Evening Machines berisi lagu yang tidak jauh berbeda dengan Liars, pembuka album kompilasi Gregory Alan Isakov with the Colorado Symphony tahun 2016 silam: serius dan tidak langsung menancap di pikiran. Tidak seperti lima lagu pembuka The Weatherman yang langsung memaksa pendengar jatuh hati layaknya membaca tweet gebetan.

Evening Machines really grows on me. Butuh waktu untuk akhirnya terbiasa. Witing tresno jalaran soko kulino. Setelahnya saya menyadari bagaimana setiap lagu mampu membuat hati dan pikiran seirama. Sama seperti saat menyadari orang yang selama ini dianggap teman biasa adalah jodoh yang sebenarnya. Tidak menggebu di awal, tapi berakhir dengan nyaman. #eaaa

Jika Living Proof dalam The Weatherman menggambarkan kesendirian dengan penuh penerimaan dan harapan, maka Evening Machines ibarat merenugi kesendirian tersebut. Seperti saat terjaga di malam hari untuk sekadar mengamati pikiran yang berputar tak karuan mengingat apa yang selama ini tidak berjalan benar. Sedikit menyedihkan dan menguras energi. Namun ada kesempatan untuk berkontemplasi mengenal diri.

Untungnya musik folk tidak diciptakan untuk melulu berlarut dalam kegalauan. Beberapa lagu sengaja disisakan me-lifting up alias mengangkat kita kembali. Dengannya kita pun menyadari ada sesuatu yang dapat menguatkan dalam menjalani hidup. Chemicals atau Dark, Dark, Dark dapat memicu hormon endorfin bekerja. Dan inilah bukti sekali lagi bahwa musik punya kekuatan untuk membantu kita merasa dipahami dalam menjalani rutinitas hidup.

Jika generasi pakde, om, atau orang tua kita memiliki Leonard Cohen, generasi milenial zaman now punya Gregory Alan Isakov. Musik-musik seperti inilah yang membuat kita menengok ke dalam perasaan. Menyadari bahwa vulnerability yang menjadikan kita merasa terasing atau sendiri bukanlah sesuatu yang harus dimusnahkan. Karena berada di sana tanpa terjebak di dalamnya akan membuat kita menghargai setiap perasaan yang datang.

 

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read

Filosofi Kopi

Sophia Mega | @sophiamega Semuanya karena Filosofi Kopi. Dulu awalnya suka kopi karena penasaran bedanya cappuccino dan cafe latte. Nah, karena keseringan ke kedai kopi,

Read More »