#06 – Robin Williams by Noah Gundersen

But when I think of Robin Williams at the end of his rope. It makes no difference what you’re making, the reaper makes the final joke.

 

Saya mendengarkan Noah Gundersen pertama kali tahun 2013 saat album Ledges di-release. His music grows on me since then. Salah satu musisi indie folk modern yang dapat merangkum kegelisahan pikiran dengan iringan gitar yang syahdu. Kalau kata istri saya, tipikal lagu galaw yang selalu saya sanggah dengan argumen: lagu yang membuat kita berpikir dan merasakan lebih dalam isi hati dan pikiran kita.

Lagu Robin Williams yang menjadi single pertama album Lover tahun 2019 ini adalah lagu yang paling sering saya dengarkan dibandingkan lagu-lagu lainnya. Ya, lagu ini ditulis setelah berita meninggalnya Robin Williams beberapa tahun silam. Bisa jadi lagu ini cerminan fase existential crisis Noah Gundersen. Sebuah momen saat seseorang mempertanyakan dan meneliti kembali meaning, purpose, dan value kehidupanya selama ini. Mungkin semua orang mengalami fase ini dengan intensitas yang berbeda-beda.

Meskipun sering diasosiasikan dengan depresi dan anxiety, existential crisis dapat menjadi proses pembebasan ketika mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan besar seputar meaning, purpose, dan value yang muncul dalam pikiran mereka. Minimal memahami dengan jujur apa yang sedang dirasakan. “Some people are afraid of what they might find if they try to analyze themselves too much, but you have to crawl into your wounds to discover where your fears are. Once the bleeding starts, the cleansing can begin,” kata Tori Amos.

Kegelishan dalam menjalani hidup dapat menimpa siapa saja, karena hidup memang kumpulan seri dari tragedi dan komedi. Jatuh cinta, kegagalan, suka cita, kesedihan, kebosanan, semuanya datang silih berganti. Kita khawatir datangnya kegagalan yang mungkin akan menimpa kita, kita merasa belum melakukan hal bermakna, kita takut akan ditinggal orang yang benar-benar kita sayang atau meninggalkan mereka.

Semua orang akan menemui akhir perjalanan hidup mereka. Siapa pun mereka, baik yang percaya dengan afterlife maupun yang tidak, baik yang gemar melakukan kebajikan atau malah lebih sering membuat kerusakan, semua akan habis jatah waktunya. Tidak seorang pun bisa menghindarinya.

Lagu ini entah dengan ajaibnya mengingatkan saya kembali akan apa yang benar-benar berarti dalam kehidupan yang singkat ini. Bukan untuk meratapi apa yang sudah terjadi atau khawatir dengan apa yang akan terjadi, tapi benar-benar merasakan apa yang kita miliki saat ini.

Sumber: https://www.lifehack.org/832129/what-is-an-existential-crisis

 

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018 All rights Reserved. Powered by Elementor.
Design by pondrafee.