Esty Diah Imaniar | @edimnr

Fear of Missing Out, atau FOMO, sederhananya adalah takut ketinggalan update terkini. Istilah ini memang sering banget kita dengar sejak adanya media sosial. Memang ketakutan seperti ini tampak gak masuk akal, tapi pada kenyataannya banyak yang mengalami ketakutan semacam ini. Bahkan saya sendiri pernah ngerasain. Dulu sekali, ketika merasa semua hal harus dikomentari. Apalagi sebagai orang yang lumayan rajin nulis di medsos, FOMO-nya lebih pada ketakutan gak tampak “peka” pada isu-isu terkini.

Buat saya pribadi, yang terpenting untuk mengatasi FOMO adalah knowing yourself alias tahu kapasitas diri, jadi gak maksa (sok bisa) untuk mengomentari semua hal. Tahu tujuan diri juga, sehingga fokus pada tujuan hidup kita yang bisa jadi pencapaiannya gak ada hubungannya langsung dengan segala hal yang kekinian atau update. Fokus ke mengembangkan diri, gak terlalu heboh sama komentar netizen, karena FOMO ini mostly triggered by digital life in social media.

As long as we truly understand our self concept, insya Allah perkara netizen mah bodo amat. Bukan semata-mata karena kita gak perlu cerita semua hal prinsipiel dalam hidup kita pada random people macam netizen, tapi juga karena kita gak harus mendengar semua komentar dari random people macam netizen. Menurut saya, ini adalah gaya hidup islami yang mulai banyak dilupakan, yaitu meninggalkan sesuatu (termasuk pemikiran) yang gak bermanfaat.

Dalam Islam, kita “diajarkan” untuk bersikap bodo amat pada hal-hal yang gak mengganggu atau gak mendukung hidup kita, jadi gak semua omongan orang mesti dipikirin. Bukan berarti kita seutuhnya gak mendengar pendapat orang lain. Kita tetap perlu mendengarkan nasihat mereka yang punya otoritas atas pendapat tersebut dan atas kita, soalnya otoritas keilmuan itu penting banget dalam Islam, apalagi perkara agama.

Salah satu yang gampang bikin stres dalam kehidupan bermedsos saat ini kan saat ada netizen yang (merasa) benar bersabda sebagai hakim kebenaran dalam rangka “sekadar mengingatkan”. Nah, biar gak gampang galau, balik lagi ke konsep diri tadi. Namun, tetap terbuka pada nasihat otoritatif yang konstruktif.

Sebenarnya ada banyak sekali manfaat dari media sosial, apalagi bagi saya yang gemar menulis. Media sosial dapat menjadi tempat untuk latihan menulis, bertemu jodoh, berdiskusi dengan khalayak, dan juga berkomunikasi dengan teman-teman. Medsos memudahkan saya menjangkau audiens. Engagement-nya pun lebih mudah dipantau via dunia digital.

Belakangan ini saya benar-benar merasakan bagaimana medsos ternyata tidak hanya sekadar “dunia maya”. Saya bertemu dengan kenalan online yang menjelma menjadi teman-teman offline baik hati. Sebagian dari mereka adalah pembaca tulisan-tulisan saya yang lahir dari medsos. Di medsos saya juga mengikuti kelas-kelas belajar dan mengadakan kelas belajar bersama komunitas.

So far saya belum begitu merasakan hal yang sangat mengganggu saat menggunakan medsos. Paling sebagai penulis esai dunia maya, saya sering menuai haters. Untungnya saya lempeng-lempeng saja menanggapi mereka. Haha.

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read