Filosofi Kopi

Sophia Mega | @sophiamega

Semuanya karena Filosofi Kopi. Dulu awalnya suka kopi karena penasaran bedanya cappuccino dan cafe latte. Nah, karena keseringan ke kedai kopi, terjebaklah aku pada beraneka ragam kopi. Apalagi aku dikasih tahu menariknya kopi yang ternyata memang semenarik itu. Ya, kopi ternyata bisa seenak itu, bener-bener kayak minum teh atau minum yang lain. Aku pernah mikir, ngapain juga minum kopi, padahal lebih enakan jus alpukat. Hahaha. Namun, ternyata kopi memang seenak itu. Jadinya aku gak bisa berhenti minum.

Aku gak pernah nyangka bisa dapat ragam rasa berbeda dalam secangkir kopi yang selama ini kita pikir pahit. Ternyata rasa pahit itu muncul karena referensi rasa yang ada dalam lidah dan otak kita masih terbatas. Jadi kita menganggap “rasa tidak nyaman” itu menjadi “rasa pahit”. Makanya kalau orang awam dikasih kopi seenak apa pun, mereka tetep bilang kalau kopinya pahit.

Analoginya seperti kita makan nasi goreng. Orang yang lidah dan otaknya sering dilatih mengenali rasa, dia bakal ngerti bumbu apa aja yang dipake nasi goreng itu. Yang gak pernah dilatih, mungkin bakalan mikir kalau semua nasi goreng itu rasanya sama. Produksi kopi memang butuh alat dan ilmu pengetahuan yang memadai, tapi untuk menikmatinya akan kembali lagi pada lidah kita. Kalau kita mau sedikit belajar kepekaan rasa, kita jadi lebih bisa mengapresiasi kopi dengan ragam rasanya.

Kalau buatku, manfaat ngopi itu lebih ke bikin fokus kerja. Kopi itu temen buat jadi produktif. Kalau ada kopi, distraksinya lebih sedikit daripada gak ngopi. Hahaha. Berlaku juga buat kedai kopi. Aku melihat kedai kopi bukan sekadar tempat nongkrong yang gak produktif. Aku lebih melihat kedai kopi sebagai tempat yang produktif. Tempat di mana kita bisa bertemu orang baru dan berkolaborasi.

Ada beberapa kedai kopi yang menurutku recommended banget. Gak hanya suasananya, tapi juga rasanya. Kalau lagi jalan-jalan ke sana, coba sempetin ke kedai kopi tersebut.

Karanganyar

Dof Coffee. Seneng kalau ada di coffee shop yang orang-orangnya selalu rendah hati dan mau berbagi ragam rasa kopi. Pengalaman di Dof Coffee salah satu yang gak pernah terlupakan. Kopinya juga enak banget.

Yogyakarta

Klinik Kopi. Meski overheard banget, tapi kalau belum pernah ke Klinik Kopi, coba sekali saja nyempetin ke sana. Tempat ini bakal ngasih pengalaman berbeda.

Surabaya

Titik Koma. Tempatnya yang kecil menurutku punya sisi yang memberi kenyamanan. Apalagi cappuccino-nya selalu enak. Kalau datang saat pagi, sekalian pesan brownies. Lengkap sudah syarat untuk memulai pagi.

Jakarta Selatan

Goni Coffee. Suasana teduhnya dan nikmat cappuccino-nya bikin kita mikir kalau sedang gak di Jaksel.

Melbourne

Patricia Coffee Brewer. Banyak kedai kopi enak di Melbourne, malah kayaknya susah cari yang gak enak. Tapi ini salah satu yang wajib banget didatangi karena Patricia punya kultur berbeda. Tempatnya sangat kecil, tapi antrian yang menunggu ngasih energi produktif banget. Cappuccino-nya juga favorit!

Malang

Motiv Coffee. Mereka selalu sedia ragam coffee beans untuk cappuccino-nya, jadi bisa nyicipin cappuccino dengan ragam rasa.

MMMM Coffee. Salah satu the best in town.

Amstirdam Coffee. Kalau butuh suasana yang berasa dari hulu ke hilir, coba ke sini. Saat pagi kita bisa ketemu langsung petaninya. Ada juga yang sedang menggoreng kopi. Suasana sibuknya itu loh, menyenangkan sekali.

Kegemaran ngopi juga kebawa sampai ke feed media sosialku. Karena kalau bicara soal media sosial, pasti berbasis apa yang kita suka. Ternyata kopi gak bisa dilepaskan. Jadi sampai hari ini feed-ku tidak pernah lepas dari kopi. Meskipun memiliki cara bercerita yang berbeda tentang kopi daripada 2 tahun lalu, tapi ujung-ujungnya tetap saja kopi.

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018 All rights Reserved. Powered by Elementor.
Design by pondrafee.