It’s a Boy!

Novia Chandra

 

“Maybe you’ll be president, but know right from wrong. Or in the flood you’ll build an Ark. And sail us to the moon.” (Radiohead – Sail to the Moon)

Motherhood for me is just another life class to attend, sama kayak hood-hood yang lain; childhood dan college-hood yang semua butuh proses belajar lagi dan lagi. Mungkin yang menjadikannya spesial adalah ada variabel lain yang ”tergantung” sama kita, alias nggak bisa autopilot mode lagi dan hanya mikir mau kita gimana. There’sa tiny human yang harus dipikirkan mood-nya, maunya, dan karakternya. Yup, manusia kecil itu bernama Aksa, anak laki-laki yang pintar kayak ibunya.

Punya anak laki-laki itu best feeling ever menurutku. Ya mungkin karena aku juga belum pernah ngerasain punya anak cewek sih ya. Tapi ada hal-hal kayak assurance yang aku dapat ketika punya Aksa dan dia sudah mulai tumbuh sifat protective-nya. Seperti bilang, ”Aku sayang Ibu,” ngucapin selamat malam sebelum tidur, bahkan kadang ”belain” ibunya pas sedang discuss sama ayahnya. Menurutku itu the very sweet side of having a son.

Mendidik anak laki-laki memang butuh penanganan tertentu. Aku gak pengin dia jadi anak yang manja, tapi juga gak pengin dia jadi anak yang kurang percaya diri. Aku pengin Aksa bisa jadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab, baik buat dirinya sendiri maupun orang lain. Makanya mulai sejak dini aku menanamkan nilai-nilai kemandirian dan mengapresiasi apa yang telah ia capai.

Pernah nonton reality show Jepang yang judulnya My First Errand? Jadi di Jepang anak-anak usia 5 tahun sudah dimintai tolong orang tuanya belanja groceries. Meskipun kayaknya nggak mungkin mengingat lalu lintas kita nggak serapi di Jepang, aku berusaha menerapkan intinya: berdayakan anak. Dari yang paling sederhana ketika anak bisa memegang makanan sendiri aku ajarkan membuang sampah pada tempatnya, kemudian memasukkan pakaian kotor di laundry bag, meletakkan piring kotor bekas makan di sink. Dan dia nggak keberatan, justru senang karena merasa berguna setelah aku bilang ’terimakasih’. I think that’s the biggest achievement in my mother mode, hehe.

And when I have to be busy, I’ll let him know and get involved. Aku pernah baca kebiasaan anak itu terbentuk justru pada masa emasnya. Kan kebanyakan orang tua justru kasihan masih kecil disuruh ini itu. Eh tapi ternyata hasilnya di kemudian hari maunya diladeni terus. Semakin dini justru semakin gampang kebiasaan itu dibentuk. Seperti kebiasaan bangun misalnya, hal itu nggak bisa dibentuk satu dua tiga bulan menjelang dia nanti sekolah, karena menyangkut jam biologis. Jadi kalau perlu dari bayi kita ajak bangun pagi sesuai kita bangun.

 

Pengasih dan Penyayang

Ketika Aksa kelak sudah dewasa, aku juga pengin jadi teman buat anakku. Tapi ketika dia belum bisa memilih, ya aku harus berperan sebagai orang tua yang harus punya sifat ’pengasih dan penyayang’ bukan salah satunya saja. Yang aku maksud orang tua pengasih contohnya, ketika anak menangis minta permen, kasih saja meskipun nanti bikin dia sakit gigi, atau membelikan sesuatu yang dia sebenarnya sudah punya atau nggak butuhkan. Nah ini namanya orang tua pengasih tapi nggak penyayang menurutku. Karena ini ada efek bola salju yang akan berat diluruskan semakin bertambahnya umurnya.

Aku berusaha menerapkan apa yang nggak mau aku rasakan ya nggak aku lakukan ke anakku. Zaman dulu kan rasanya sebal kalau misal our parents said no but we have no clue why. Nah sekarang aku mencoba menjelaskan segala sesuatunya, misalnya kenapa nggak boleh makan camilan manis sebelum makan atau kenapa nggak boleh minum es krim ketika rhinitis laergi-nya kumat. Aku berusaha pahamkan berulang-ulang dengan bahasa yang sederhana. Efeknya sih dia jadi ngerti. When I said no, there must be a reason in most times, meskipun adakalanya tetap ya seorang threenager akan show off egonya dan menutup pintu negosiasi dengan tantrum.

 

Menyiapkan yang Terbaik bagi Anak

Pada umur belum ada dua tahun, aku membelikan Aksa set buku harga jutaan yang bikin nenek dan kakeknya geleng-geleng. Anak bayi kok disuruh baca, mungkin itu yang dipikirkan beliau. Aksa hampir nggak punya mainan kecuali mobil dan bola yang bisa dihitung dengan satu tangan. Aku tetap saja cuek dan bacakan cerita tiap malam. Sekarang sebelum umurnya 4 tahun dia sudah bisa role-playing dan storytelling dengan mainan-mainan tanpa aku dampingi. Aku hampir nggak pernah membelikan mainan murah yang dua tiga hari rusak nggak ada artinya bagi dia meskipun dia merengek.

Aku lebih memilih menabung dan membelikannya lego walaupun mahal. Awalnya, selama beberapa bulan, lego itu hampir nggak pernah disentuh olehnya. Tapi begitu muncul ketertarikan pada mainan dengan open end, tiap hari nggak ada habisnya dia merancang bangun jembatan, robot, rumah sampai berseri-seri koleksinya. Ketika di toko mainan pun nggak pernah dia meminta mainan, bahkan ketika ditawari. Seringnya dia bilang, ”Aku sudah punya”.

Mungkin dari sana trust satu sama lain dibangun. Dia nggak pernah meminta karena ayah ibunya sudah menyiapkan mainan yang berguna dan dia suka tanpa harus bilang. Seperti juga masa depan dia, walaupun sampai sekarang belum kelihatan bakat minatnya. Semoga trust ini tetap terjaga bahwa orang tuanya pasti memilih yang terbaik baginya dan sesuai kemampuannya. Yang pasti sih apa pun profesi atau cita-citanya kelak, landasan kemanusiaan, mencintai alam sekitar, kejujuran, akal budi, sopan santun, sportivitas dari kecil dulu yang kami perjuangkan bersama-sama.

Instead of menaruh harapan segunung sama anak dan masa depannya, aku dan suami lebih pengin ”yuk grow up and achieve bareng”. Mikir gimana supaya anak bisa bangga sama orang tuanya, bukan hanya berharap sebaliknya.

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018 All rights Reserved. Powered by Elementor.
Design by pondrafee.