Jodoh Itu Selevel

Foto di atas adalah kali pertama kami berpose ala-ala anak milenial masa kini. Dulu semasa kami ABG, pose itu berarti fulus alias minta duit, tapi ternyata bagi ABG Korea masa kini, symbol tangan itu artinya bentuk heart. Ngomong-ngomong soal Korea, saya jadi ingat percakapan beberapa waktu silam di grup alumni. Sebenarnya tidak ada percakapan tentang Korea. Malah lebih serius lagi, yakni perihal jodoh. Saya ringkas di sini intisari dari percakapan tersebut agar lebih mudah dipahami.

Dari pengalaman kami berdua, ternyata jodoh tidak seperti drama Korea. Cowok ganteng kaya ketemu cewek sederhana. Awalnya saling gak suka. Ujung-ujungnya pedekate lalu minta duit pacaran. Ditambah episode terakhir mereka menikah. Dan mereka pun hidup bahagia. Tamat. Klise sih, tapi banyak yang mengidamkan dan percaya dengan kehidupan seperti itu. Apalagi buat mereka yang sedang mendamba datangnya pujaan hati.

Ada satu hal yang mungkin mendasar namun sering terlewat oleh galawers penanti jodoh. Setiap pasangan adalah cerminan dari pasangannya. Dengan kata lain, jodoh ada dalam level yang sama alias sekufu alias sebibit, bebet, dan bobot.

Lalu apa standar level tersebut? Standarnya berbeda-beda bagi setiap orang, karena setiap orang memiliki level masing-masing. Level adalah orisinalitas diri, kecakapan diri, apa pun itu yang menjadikan kita adalah kita. Yang paling efektif sebagai indikator level adalah pikiran, karena pemikiranlah citra sebenarnya dari seseorang.

Hukum tarik menarik menyatakan bahwa like attracts like. Mereka dengan frekuensi yang sama biasanya lebih mudah berinteraksi dengan satu sama lain dibanding dengan orang yang mempunyai frekuensi yang berbeda. Frekuensi adalah hasil dari apa yang ada dalam otak manusia, yakni pikiran. Maka tidak heran jika mereka yang berjodoh selalu merasakan chemistry alias nyambung saat berinteraksi. Tidak hanya ngobrol, namun ketika melakukan beragam aktivitas. Itu karena mereka memiliki pola pikir yang kurang lebih sama. Energi mereka sefrekuensi. Mereka berada di level yang sama.

Kesamaan level pulalah yang mempermudah pasangan dalam berkomunikasi dan berkompromi. Berhubung mereka memiliki pola pikir yang sama, mereka pun akan melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang serupa. Sehingga ketika dihadapkan dengan sebuah masalah, mereka mampu mencari jalan keluar yang dapat dikompromikan dengan baik. Alhasil solusi pun jadi gampang ditemukan. Bagaimanapun juga, komunikasi dan kompromi adalah landasan terpenting dalam menjalin sebuah hubungan.

Memang ada anomali jodoh yang berawal dari level yang bertolak belakang. Namun perlu disadari bahwa mereka pasti menghadapi serangkaian proses yang tidak mudah untuk menyamakan level tersebut. Apabila mereka mampu melewati proses tersebut, berarti mereka berjodoh. Namun jika tidak, berarti mereka bertumbuh untuk nantinya dipertemukan dengan orang lain yang berlevel sama. Simpel!

Jadi sebelum berandai-andai mendapatkan pasangan idaman layaknya artis-artis Korea atau sosok bening dan bersinar di Instagram, jujurlah kepada diri sendiri tentang level diri yang sebenarnya. Mereka yang berjodoh adalah mereka yang memiliki level yang sama dari awal atau mereka yang bersedia menjalani proses untuk menyejajarkan levelnya.

Tapi yang paling enak itu emang berandai-andai sih, apalagi muluk-muluk. Gratis gak ada yang nagih bayaran. Tapi piknik ke kebun teh juga enak dan gratis lho. Walaupun tetap harus keluar biaya bensin. Sama makan siang juga kalau lapar. Sama beli pentol kalau kebetulan pasangan juga hobi jajan.

 

We are like magnets – like attract like. You become and attract what you think.” -Rhonda Byrne

 

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018 All rights Reserved. Powered by Elementor.
Design by pondrafee.