Makna Sinatria

I do believe something very magical can happen when you read a good book.” – J.K. Rowling

Buku itu layaknya rumah. Sebagai rumah, buku sarat dengan isi, dengan jendela untuk sekadar melongok dan melihat dari luar dan pintu yang memberikan akses penuh untuk masuk ke dalam. Buku juga dunia. Beberapa penulis berhasil membuat dunia yang begitu luas tanpa batas, yang membuat pembacanya seakan berada di dalam dunia tersebut dan tak sengaja menyeret dunia buku ke dunia nyata.

Tidak salah memang pepatah yang mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia, karena aku belajar banyak dari buku. Aku belajar membayangkan, melihat dengan mata tertutup, dan merasakan bagaimana berjalan dengan sepatu orang lain. Aku pun belajar memahami nestapa orang lain dan belajar mensyukuri apa yang aku punya dan yang tidak. Ketika kehidupan sedikit terasa penat dan melelahkan, kadang aku lari ke buku, ke dunia di dalamnya dan tenggelam dalam kehidupan orang lain atau dalam dunia fantasi. More often than not, ini membantuku menghadapi masalahku sendiri.

Bagiku buku juga seperti suara dalam keheningan. Selama kuliah S-2 aku banyak belajar tentang ”suara yang tak terdengar” dan aku ingin sekali menuangkan ketimpangan ini dalam novelku. Sebagai novelis, aku ingin pembacaku berhenti bicara dan mulai benar-benar mendengarkan suara orang lain. Aku merasa novel dan buku adalah salah satu cara paling ampuh untuk ”menggelitik” orang. Paling tidak, novel lebih gampang diakses, dibaca, dan dipahami dibandingkan jurnal ilmiah. Novelis-novelis di penjuru dunia adalah mediator sempurna untuk menyampaikan ini, dan banyak dari mereka menulis tentang ini.

Mungkin ini klise dan biasa banget, tapi Harry Potter karangan JK Rowling adalah buku yang paling berkesan dalam hidupku dan mendorongku untuk melakukan banyak hal (kuliah di luar negeri, menerbitkan novel sendiri, hingga mengunjungi Inggris). Aku mulai baca Harry Potter waktu kelas 6 SD dan ceritanya sungguh berkesan buatku yang masih kecil waktu itu (dan aku berambisi untuk menjadi seperti Hermione Granger!)

Harry Potter itu more than the eyes meet, bukan sekadar buku tentang sihir dan dunia fantasi. Banyak hal yang bisa dipelajari dari kedalaman cerita dunia Harry Potter. All-time favorites!

See! Buku ternyata mampu menggerakkan seseorang untuk bertindak.

 

09. Makna Sinatria

Berawal dari Keluarga

Aku nggak ingat kapan tepatnya mulai suka baca buku, tapi aku ingat dulu langganan majalah Bobo dan Donal Bebek (komik itu termasuk buku, in case orang-orang mempertanyakan keabsahan komik dalam dunia sastra). Kemudian aku mulai baca buku-buku yang lebih tebal seperti Goosebumps karya RL Stine, karya-karya Enid Blyton, dan komik Jepang.

Aku bersyukur dibesarkan di keluarga yang menggemari sastra. Ayahku dulu penulis dan pembaca puisi, beliau aktif di dunia teater semasa kuliah. Sedangkan ibuku rajin membaca novel roman semasa kuliah, kakakku menulis cerpen dan puisi, dan adik perempuanku juga pembaca puisi. Sepertinya merekalah yang menginspirasi, mungkin lebih tepatnya mendorongku, untuk gemar membaca buku. Dulu sebulan sekali kami sekeluarga selalu pergi ke toko buku di luar kota dan pulang dengan banyak buku. Makanya dari kecil buku cerita (novel dan komik) adalah kado ulang tahun paling berharga untukku.

Sampai sekarang pun aku masih punya ratusan komik dan novel yang aku koleksi dari kecil. Melihat ratusan koleksi buku di rumah, ibuku selalu bilang bahwa yang bisa diwariskan oleh beliau hanya tumpukan buku dan pengetahuan.

Aku yakin kalau semua orang punya preferensi sendiri-sendiri untuk urusan buku yang dianggap menarik, namun kalau aku harus merekomendasikan satu buku yang wajib dibaca minimal sekali seumur hidup, aku pilih Tuesdays with Morris yang ditulis oleh Mitch Albom. Aku jarang banget baca buku motivasi karena terkadang terlalu positif dan nggak masuk akal. Tapi buku karya Mitch Albom yang ini realistis dan mungkin lebih bisa disebut memoar, dengan bagian besar tentang menjadi ”manusia” dan menjalani hidup—yang dihadapkan dengan kematian dan kehilangan.

Saking sukanya dengan buku ini, aku bawa sampai ke Amerika, in case aku lupa kalau hidup itu nggak melulu tentang diriku sendiri. Buku ini ringan dan bisa diselesaikan dalam sehari, mungkin sejam kalau niat banget. Meskipun begitu, isinya nggak ringan. Dan siap-siap juga merasa ditohok oleh Morris setelah menyelesaikannya.

Untuk penulis Indonesia, karya Windry Ramadhina juga ditulis apik dan temanya menarik. Wajib dibaca juga. Oh, aku juga rekomendasikan novel yang aku tulis sendiri, Then She Smiles. Silakan cari di toko buku-toko buku terdekat. LOL.

 

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

One Reply to “Kekuatan Buku”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read