Mendengar Tak Sama dengan Mendengarkan

Saat curhat, banyak orang yang suka menyela, memotong pembicaraan, atau malah mengganti topik seakan tak mau ambil pusing dengan apa yang dirasakan orang lain. Mereka memang memberi nasihat, tapi sering kali terasa sebatas validasi bahwa mereka merasa lebih tahu. Kadang nasihat pun terdengar seperti mereka sedang memaksakan pandangannya. Atau malah ingin segera menyelesaikan obrolan karena gerah dengan apa yang didengar.

Adalah kenyataan bahwa semua orang merasa “kesepian”, dan sayangnya di dunia yang semakin terhubung dan ramai ini banyak yang malah merasa terasingkan. Setiap orang merasa ingin didengar tanpa mau mendengar terlebih dahulu. Dalam masyarakat yang lebih banyak bicara, dunia butuh orang yang benar-benar mendengarkan (listening), bukan sekadar mendengar (hearing) lalu dalam hati ancang-ancang untuk merespons. Bahkan seorang introvert pun akan nyaman bertemu orang yang bersedia mendengarkan. Tanpa judging, tanpa menggurui.

Menjadi pendengar yang baik memang tidak gampang. Butuh kedewasaan karena harus berempati—rela terlibat secara emosional tanpa ada prasangka dan keinginan menghakimi. Brené Brown, profesor dari University of Houston dan penulis buku The Gifts of Imperfection, menjelaskan bahwa berempati berarti terhubung dengan orang lain. Lalu untuk bisa terhubung serta merasakan perasaan orang lain, seseorang harus terlebih dahulu terhubung ke dalam dirinya sendiri yang tahu tentang perasaan tersebut. Sehingga dia dapat merasakan perasaan seperti apa yang sedang dirasakan oleh orang lain. Dengan merasakan perasaan orang lain itulah seseorang akan benar-benar mampu mendengarkan apa yang disampaikan orang lain.

Sejak awal menjalin hubungan, kami berusaha untuk saling mendengarkan. Tidak hanya mendengar dan siap-siap merespons, namun benar-benar memahami apa yang disampaikan pasangan. Kemampuan mendengarkan itulah yang sedikit demi sedikit berhasil membuat kami merasa tidak sendirian di tengah-tengah kebisingan dunia.

Kami dihadapkan pada kehidupan kantor setiap hari (kecuali weekend). Saat pagi dalam perjalanan ke kantor, kami harus rela berbagi kemacetan dengan sesama pengguna jalan. Sesampainya di kantor, pekerjaan sudah menunggu dan harus segera diselesaikan. Selesai pekerjaan yang satu, pekerjaan berikutnya mengantre untuk dirampungkan. Di sela-sela istirahat, sosial media membombardir dengan beragam postingan yang memainkan emosi. Energi perlahan-lahan terkuras hingga sore hari.

Dalam perjalanan pulang pun lagi-lagi kami harus bertemu dengan kemacetan, polusi, dan pengendara lain yang sama-sama ingin sampai rumah lebih awal. Pikiran semakin lelah ketika dalam perjalanan kami menyadari bahwa inilah rutinitas yang sudah berjalan selama beberapa tahun. Setahun, dua tahun, tiga tahun tak berasa. Ketika dunia di luar kantor sudah berdinamika, rutinitas ini tetaplah sama. Tetap menatap monitor yang sama, tetap melakukan pekerjaan yang sama, tetap pulang di jam yang sama, dan tetap melewati jalan pulang yang sama.

Ingin rasanya segera istirahat dan tidur sesampainya di rumah. Tapi itu berarti harus mengakhiri waktu berkualitas di hari ini dan menggantinya dengan rutinitas yang terulang lagi esok hari. Rasanya waktu terlalu sayang diabaikan begitu saja.

Kami menyadari bahwa kesempatan menjalani hidup sangat terbatas. Setiap momen layak dirayakan dan berharga untuk dirasakan. Mungkin karena kesadaran itulah kami selalu menyempatkan waktu di malam hari untuk benar-benar hadir seutuhnya, menikmati momen kebersamaan. Biasanya kami akan memulai obrolan santai dan saling mendengarkan tentang apa yang kami alami di hari itu, masalah maupun hal-hal seru yang terjadi, dan apa pun yang layak diceritakan. Awalnya memang terasa berat untuk memulai dan konsisten dengan kebiasaan ini. Apalagi masing-masing dari kami akan turut merasakan perasaan yang sama jika salah satu sedang merasa kurang baik. Namun inilah cara untuk saling terhubung—memahami, menghargai, dan menguatkan perasaan masing-masing.

Kami berusaha semaksimal mungkin mendengarkan apa yang disampaikan pasangan, tidak menyela atau memaksakan pandangan saat pasangan sedang bercerita. Dengan itu kami sama-sama merasa dipahami dan dimengerti. Yang lebih penting lagi, kami merasa tidak lagi sendiri. Karena ternyata ada orang lain yang sama-sama berjuang menjalani rutinitas dan ada untuk mendukung satu sama lain. Hal yang sangat menguatkan di tengah arus kebisingan di dunia ini.

Setelah sesi saling mendengarkan, pasti muncul perasaan lega. Ada beban yang terangkat, menguap seketika seiring malam yang semakin larut. Akhir hari pun menjadi waktu penyegaran yang berkualitas. Esoknya, perasaan menjadi lebih ringan dan siap memulai rutinitas.

Mendengarkan adalah cara ampuh untuk mengusir ”kesepian” seseorang. Orang yang bercerita sebenarnya tidak butuh jawaban, namun butuh didengar. Mereka hanya butuh saluran untuk mengeluarkan semua kegelisahan yang mengendap di dalam pikiran. Mendengarkan ibarat vitamin C bagi jiwa. Layaknya Minuman Madu Lemon yang menyegarkan tenggorokan saat panas terik melanda. Dengan mendengarkan, kita tak hanya membuat seseorang merasa dipahami, namun juga membuatnya merasa tidak sendiri. Mendengarkan juga membuat kita menjadi semakin dewasa dan bijak dalam berkomentar. Itulah mengapa kita diberi satu mulut dan dua telinga, agar kita lebih banyak mendengarkan ketimbang berbicara.

 

 

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read