Menjadi Ayah adalah Lifetime Learning

Andi Permana

 

Saat masih kecil, dan mungkin sampai sekarang, aku masih merasa bahwa menjadi ayah adalah impian semua anak laki-laki saat bocah. Mereka pasti ingin jadi ayah saat dewasanya. Buatku sendiri, ada kebahagiaan menjadi seorang ayah.Tapi ada rasa tanggung jawab juga. Karena ini adalah titipan Allah. Makanya kadang ada pikiran, ”Apa aku bisa ya?” mengingat mengurus diri sendiri saja aku masih berantakan. Dan sekarang harus ngurusin anak orang dan anak sendiri. Harus punya penghasilan biar keluarga bisa makan. Harus punya kepintaran agar potensi anak-anaknya bisa dikembangkan. Dan yang pasti harus punya kebijaksanaan.

Tapi syukurnya aku punya istri yang bisa diandalkan. Dia sangat membantu banget terutama pada saat  anak masih balita seperti sekarang. Sulit untuk ditulis seperti apa perasaan tersebut,tapi yang pasti perasaan menjadi ayah adalah sesuatu yang ”magic”.Kadang sewaktu tidur malam, aku terbangun lalu melihat ada istri dan anak-anakku, kemudian bersyukur. Terima kasih Tuhan,ternyata ini nyata.

Jujur, sebenarnya aku masih berusaha untuk seimbang dengan peranku sebagai ayah, suami, dan anak. Karena di dalam diriku terkadang masih ada pikiran anak usia 18 tahun yang ingin bebas dan semaunya. Dalam hal ini aku masih kerepotan. Apalagi aku bekerja di instansi yang kaku, sehingga pola pikirku ikut terbelenggu.

Untungnya aku sering mengomunikasikan hal ini kepada istriku dan dia adalah ”selfguard”-ku ketika aku tidak berada pada peran yang tepat. Aku juga bersyukur tinggal di kota yang sama dengan orang tuaku, sehingga dapat bertemu dengan mereka kapan saja. Buatku kuncinya adalah sering berkomunikasi. Dengan sering komunikasi, maka sebenarnya tidak ada masalah dengan peran tersebut.

Hal terbaik ketika menjadi ayah adalah kita bisa berbagi dan memperbaiki apa yang salah pada saat kita masih kecil agar tidak terulang pada anak. Aku menyadari bahwa dulu aku diasuh dengan pengetahuan orang tua yang masih sederhana.Aku tidak terlalu dekat dengan Bapak saat masih kecil, karena beliau orangnya kaku dan jarang ngomong. Sehingga beliau seakan tidak mau akrab dengan anaknya. Hingga setelah dewasa ini aku jadi semakin mengerti kalau beliau memang seperti itu. Dan memang itu tidak dapat diubah. Tetapi buatku, beliau tetaplah pahlawan untuk keluarga, terlepas dari apa yang aku tulis di atas.

Dari situlah aku belajar bahwa perasaan tersebut adalah perasaan yang tidak ingin anakku rasakan kelak. Aku sudah berjanji dalam hati bahwa aku ingin dekat dan akrab seakrab-akrabnya dengan anak-anak. Aku ingin menjadi orang pertama yang mereka tuju untuk share rasa gundah atau senang dari kecil hingga dewasa kelak. Semoga.

Menjadi ayah adalah lifetime learning, bukan proses yang berhenti di satu titik, namun selalu berkelanjutan. Pastinya ada dinamika yang menyertai saat menjalaninya. Proses tersebut memang menguras otak hingga emosi. Karena kita harus selalu bisa diandalkan oleh anak-anak kita dan memuaskan mereka. Hal yang sulit memang, namun buatku itulah saat-saat terbaiknya.

Harapanku buat anak-anak tidaklah muluk-muluk. Aku hanya ingin mereka selalu sehat dan tumbuh normal sesuai fase usia mereka. Mereka bisa merasakan kegembiraan masa kecil dan bisa mengembangkan potensi mereka.

Menjadi orang tua adalah pekerjaan paling sulit di dunia karena kita tidak mungkin hidup sendirian dan mengekang anak-anak kita agar tidak bertemu dengan orang di luar. Itu hal yang mustahil. Yang dapat kita lakukan adalah menyiapkan bekal buat mereka dari kecil sampai dewasa. Hingga pada saatnya nanti kita harus ikhlas melepaskan mereka untuk membuat keluarga mereka sendiri.

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read

Jodoh Itu Selevel

Foto di atas adalah kali pertama kami berpose ala-ala anak milenial masa kini. Dulu semasa kami ABG, pose itu berarti fulus alias minta duit, tapi

Read More »