Menjadi Kaya (Alasan Terburuk untuk Menulis)

Memang ada banyak sekali alasan mengapa seseorang menulis, termasuk salah satunya ingin menjadi kaya. Namun, alasan menjadi kaya adalah seburuk-buruk alasan untuk menulis, apalagi menulis sebuah buku yang membutuhkan waktu dan proses yang panjang.

Media sering kali menyuguhi gambaran penulis-penulis sukses yang berhasil menghidupi dirinya hanya dengan menulis. Sayangnya jarang ada media yang memberitakan betapa banyak penulis yang harus mencari penghasilan lain untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. Ya, menjual mimpi masih menjadi komoditas terbaik dari media.

Menulis bukanlah resep mujarab untuk kaya raya. Tidak ada “jaminan uang kembali” jika seseorang yang menjadi penulis akan kaya raya keesokan hari. Oleh karena itu, tujuan menulis agar kaya raya harus segera direvisi.

Pemenuhan Kebutuhan

Menulis seharusnya menjadi semacam pemenuhan. Pemenuhan kebutuhan batin. Pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri. Pemenuhan kebutuhan dalam merangkai ruwetnya isi kepala ke dalam tulisan yang terstruktur. Alasan-alasan tersebut lebih masuk akal, terapeutik, dan pastinya awet.

Seseorang yang menulis hanya karena terobsesi menjadi kaya bakal mengalami kekecewaan bertubi-tubi di tengah jalan. Bagaimana kalau tulisan yang dia tulis tidak kunjung menemukan pembaca yang bersedia membayarnya? Mungkin setelah sepuluh kali menulis dia akan berhenti menulis. Sebab, tujuan untuk menjadi kaya raya tidak segera tercapai.

Dari pengamatan saya selama ini, penulis-penulis yang saya anggap sebagai penulis andal adalah mereka yang menulis karena senang menulis. Alasan utama dia menulis adalah memenuhi kebutuhan dalam dirinya terlebih dahulu. Hasilnya? Tulisannya jujur, mengalir, dan memiliki nilai jual. Kemudian apakah setelah tulisannya dibukukan dan diterbitkan dia seketika mendapat royalti yang langsung membuatnya kaya raya? Belum tentu. Namun, apakah dia berhenti menulis? Tidak sama sekali. Dia tetap menulis dan menulis.

Tidak berhenti sampai di situ, dia bersedia untuk berusaha lebih dalam mempromosikan tulisan-tulisannya. Hal ini didorong oleh rasa cintanya akan dunia tulis-menulis itu sendiri. Dia pun mulai membangun komunitas dari pembacanya. Dia mulai meningkatkan kemampuan komunikasi dan personanya. Dia mulai mengasah kemampuan manajerialnya. Dia mulai menulis karya-karya berikutnya. Hal tersebut berlangsung tidak hanya sehari, seminggu, atau bahkan setahun, melainkan bertahun-tahun.

Akumulasi dari usaha, karya, dan dedikasinya itulah yang akan mengantarkannya pada kesuksesan sebagai seorang penulis. Jadi, bukan murni “menulis” itu sendiri yang berhasil membuatnya sukses, melainkan tambahan faktor lain yang mendukung karya tulisannya, seperti ilmu menjual, ilmu bersosialisasi, ilmu manajemen, ilmu branding, dsb.

Jadi, sejak awal tanyakan kepada diri sendiri apa alasan dan tujuan kita menulis. Kalau sekadar alasan remeh untuk menjadi kaya, mungkin lebih baik mencari kesibukan lain yang lebih kita senangi.

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018 All rights Reserved. Powered by Elementor.
Design by pondrafee.