Menjadi Otentik

architectural-1868172_1280

Salah satu sifat dasar manusia adalah senang sekali membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Tak jarang sesuatu yang dimiliki orang lain terlihat menarik dibandingkan apa yang telah dimiliki. Hal ini seringkali menjadi bumerang ketika pada akhirnya muncul perasaan iri, dengki, ketidakpuasan, kekecewaan, dan perasaan negatif lainnya.

 

Ada kalanya sifat membanding-bandingkan ini dapat diarahkan untuk hal yang bermanfaat. Bukan untuk menjadi iri, dengki, ataupun hal-hal negatif lainnya, namun untuk meningkatkan kualitas diri. Misalnya ketika kita membandingkan betapa lebih dermawannya orang lain, atau lebih pengasihnya orang lain, dan kita terpacu untuk menjadi lebih dermawan dan lebih pengasih. Tentu dengan niatan ikhlas dari dalam hati, bukan untuk dipuji.

Sama halnya di dalam bisnis (atau karir) ketika dihadapkan pada kompetitor. Ketika kita mampu memandang kompetitor dengan lebih manusiawi, kita mampu memperoleh manfaat yang baik bagi diri sendiri (dan bahkan orang lain). Sam Walton, pendiri retailer terbesar di dunia, Wal-Mart, tidak pernah malu atau enggan mengunjungi toko-toko kompetitornya. Untuk apa? untuk belajar sesuatu dari mereka, untuk mencari celah apa yang bisa dimaksimalkan dari bisnisnya agar lebih baik.

 

Kompetitor sebagai ‘Guru’

Memandang kompetitor yang jauh di depan kita memang terkadang dapat mengotori hati dan memaksa diri kita berusaha terlalu keras menyaingi mereka, atau minimal menyamainya. Hal yang terdengar ambisius. Pada kenyataanya butuh kerja keras yang tidak mudah, terlebih ketika kompetitor sudah berada jauh terdepan. Ketika pada akhirnya kita berhasil mencapai dan menandingi mereka, tentu muncul kepuasan tak terkira. Namun ketika kenyataan berkehendak lain dan kita tidak mampu melampaui mereka, akan muncul kekecewaan yang teramat sangat dalam. Bahkan ketika kita melihat mereka malah menjadi semakin terdepan, kita menjadi semakin lelah, gusar, dan kehilangan harapan.

Tak salah memang berkompetisi dengan kompetitor. Namun ada kalanya kita perlu memandang mereka sebagai guru yang memberikan pelajaran berharga, bukan melulu musuh yang harus dimusnahkan. Ada kalanya kita menempatkan diri sebagai mitra atau murid yang akan mendapatkan pelajaran berharga dari mereka. Memang tidaklah semudah mengucapkannya. Akan tetapi, bukan hal yang mustahil dilakukan.

Kompetitor memang memiliki keunggulan yang sulit dikejar, namun pada dasarnya kita juga memiliki keunggulan yang tak mereka miliki. Melihat keunggulan diri yang tidak mereka miliki dapat menjadi alternatif untuk ‘bersaing’ dengan mereka. Daripada kelelahan mencari cara bagaimana bisa lebih unggul dari mereka, mengapa tidak mengembangkan kemampuan diri untuk menjadi otentik dan berbeda dari mereka? Bisa jadi kemampuan unggul yang kita miliki akan mengisi kekosongan yang tidak dimiliki oleh kompetitor. Hingga pada akhirnya hal tersebutlah yang menjadi keunggulan yang kita miliki dibandingkan mereka. Kita pun menjadi terdepan dengan keunggulan yang kita miliki.

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read

It’s a Boy!

Novia Chandra   “Maybe you’ll be president, but know right from wrong. Or in the flood you’ll build an Ark. And sail us to the

Read More »