Menumbuhkan Cinta Membaca

Satu hal di Indonesia yang gak kalah sulit selain membungkam nyinyiran netizen adalah menumbuhkan rasa cinta membaca. Bahkan konon lebih sulit daripada menumbuhkan cinta dengan orang yang awalnya gak sayang. #eaaaa

Meskipun kampanye ”Ayo Baca Buku!” gencar terpampang nyata di balai desa sampai spanduk perempatan kota, namun total populasi yang bersedia meluangkan waktu membaca masih terbilang minim jika dibandingkan dengan total populasi Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Alasannya klise, gak ada waktu. Padahal waktu senggang sering dipakai untuk khusyuk stalking gebetan, mantan, atau musuh bebuyutan. Budaya membaca memang aset yang mahal sekali rupanya.

Sebenarnya sudah banyak penelitian yang ngebuktiin manfaat membaca. Selain menghibur, manfaat lain membaca yang tak kalah penting adalah meredakan stres, meningkatkan daya nalar dan kritis, plus dapat menumbuhkan empati. Ya, sering membaca karya sastra, fiksi, atau pengembangan diri bisa bikin seseorang memahami perasaan orang lain dan dirinya sendiri. Makanya gak heran Hermione Granger peduli banget sama kesetaraan Peri Rumah dan Klaus Baudelaire gak pernah capek ngelindungin saudari-saudarinya dari rencana jahat Count Olaf.

Tokoh-tokoh berpengaruh di dunia pun akrab dengan budaya membaca. Bill Gates rajin ngasih rekomendasi buku lewat vlog-nya, BJ Habibie punya perpus pribadi sebesar tiga kali rumah subsidi, Soekarno punya buku favorit yang sekarang jadi acuan mahasiswa aktivis, hingga juragan toko herbal pun juga gemar baca buku. Selain itu masih banyak contoh lain yang bakal gak kelar disebutkan satu per satu. Lagi-lagi membaca buku berperan penting dalam meningkatkan kualitas manusia. Kalau kata Tyrion Lannister, a mind needs books like a sword needs a whetstone.

Memang tiap orang punya alasan kenapa mereka enggan membaca buku. Alasan yang paling biasa dan gampang adalah harga buku yang mahal. Sebenarnya harga buku gak semahal yang dibayangkan. Jika harga buku berkisar Rp50.000, maka dengan menabung Rp2.000 selama sebulan sudah cukup untuk beli satu buku. Itu pun masih ada kembalian buat bayar parkir dan jajan cilok. Bazar buku juga banyak bertebaran dengan diskon ugal-ugalan. Apalagi sekarang buku bekas semakin mudah dicari. Kalau masih berharap gratisan, pinjam di perpustakaan pun diizinkan. Taman baca yang dikelola komunitas literasi juga sudah bermunculan. Berlandaskan fakta tersebut, alasan harga buku yang tinggi meroket tidaklah valid.

Alasan berikutnya adalah lingkungan yang tidak kondusif. Lingkungan yang suportif memang memudahkan seseorang membaca. Makanya lebih banyak yang membaca buku di perpustakaan daripada di pasar. Eh, tapi perpustakaan juga sering disinggahi hanya untuk nyari Wi-Fi gratisan, kan?

Alasan yang paling utama sebenarnya ada pada niat dari si pelaku sendiri. Jika pada dasarnya seseorang enggan membaca, ya dia akan malas membaca. Walaupun sudah dijejali beragam fakta manfaat dari membaca, tetap saja ia lebih milih distraksi yang lain. Akan tetapi, masih ada harapan untuk menumbuhkan rasa cinta membaca. Jika berinteraksi terus-menerus dengan seseorang bisa menumbuhkan rasa suka (walaupun gak harus selalu berakhir di pelaminan, sih), maka berinteraksi dengan buku bisa menumbuhkan rasa cinta pada buku. Apalagi jika interaksi tersebut dilakukan sejak dini.

Keluarga sebagai lingkup kecil adalah lingkungan utama yang paling baik untuk menumbuhkannya. Saya memperhatikan bahwa mereka yang gemar membaca biasanya lahir dari keluarga yang akrab dengan buku. Walaupun memang tidak seratus persen, namun orang tua yang gemar membaca sering kali menurunkan anak yang gemar membaca pula. Karena orang tua adalah panutan anak dan anak akan belajar dari apa yang dicontohkan oleh orang tua. Jika orang tua terdahulu tidak memberi teladan dan kita akhirnya malas membaca, mungkin inilah saatnya menumbuhkan keinginan membaca untuk generasi setelah kita. Mengharapkan generasi sekarang untuk seketika cinta membaca memang butuh usaha ekstra, namun harapan untuk membiasakan anak mulai rajin membaca masih terbuka lebar.

Hadirnya teknologi internet memang menjadi distraksi. Namun internet hanyalah media; kitalah yang membuatnya jadi bermanfaat atau malah sebaliknya. Internet sebenarnya memudahkan kita dalam membaca. Jika buku dirasa ribet, maka e-book solusinya. Tinggal download materi yang diinginkan dan baca di mana saja dengan smartphone, tablet, atau kindle. Mudah, praktis, dan hemat biaya. Internet juga memudahkan kita mencari referensi dan membeli buku. Saat ini tersedia beragam situs penjualan buku lokal maupun impor. Tidak perlu khawatir mencari buku yang bahkan belum diterjemahkan di Indonesia. Dengan beberapa klik saja, buku sudah siap dikirim ke alamat kita.

Biarlah perkembangan zaman hadir sebagaimana mestinya. Di sinilah peran orang tua yang sangat dibutuhkan. Selain memberi teladan, orang tualah sang pemberi izin kepada anak dalam mengakses internet. Mereka bisa membebaskan anak mengakses internet tanpa pantauan sama sekali atau memberi izin mengakses dengan aturan yang jelas. Merekalah yang membebaskan anak mengakses konten konyol atau membimbing mencarikan situs bacaan yang mendidik. Hasil dari pilihan tersebut akan sangat jelas dan berpengaruh pada kecintaan anak pada membaca.

Selain itu penting diingat juga bahwa orang tua perlu memberikan teladan. Jika orang tua menuntut anak gemar membaca, tapi mereka malah lebih suka ngehabisin waktu nonton video alay di YouTube dan lawakan gak jelas di TV atau ngepoin timeline Lambe Turah, berarti sama saja mereka memberi contoh hal yang serupa kepada anak. Kalau orang tua gak betah membaca, setidaknya mereka bisa menciptakan lingkungan yang mendukung bagi anaknya untuk membaca. Apalagi penelitian terbaru mengungkapkan fakta menarik bahwa meluangkan waktu membacakan buku atau mendampingi anak membaca akan berdampak positif. Tidak hanya untuk kecintaan sang anak terhadap buku, namun juga ikatan batin anak dengan orang tua.

Jika kebiasaan kecil membaca sudah ditanamkan sejak dini, kita boleh berharap saat dewasa nanti rasa cinta mereka terhadap buku akan semakin kuat. Bisa jadi akan sekuat cinta orang tua mereka dengan drama Korea. Kamsahamnida!

#sahabatkeluarga

 

Foto: Rules of Love, penulis Esty Diah Imaniar

 

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018 All rights Reserved. Powered by Elementor.
Design by pondrafee.