Mylo Xyloto: Eksistensi Coldplay Menghadapi Era Digital

Sepertinya kurang afdol jika tahun 2011 ini dilewatkan begitu saja tanpa mereview album milik Coldplay, Mylo Xyloto. Boleh dibilang, inilah salah satu album yang paling ditunggu-tunggu oleh para pencinta musik, penikmat musik, dan tentu saja penggemar Coldplay itu sendiri.

Dirilis tanggal 24 October tahun 2011 kemarin, Mylo Xyloto menawarkan 14 lagu yang berdurasi sekitar 44 menit. Jumlah yang lumayan banyak untuk ukuran sebuah album britpop. Mungkin ini adalah satu cara bagi Coldplay untuk memuaskan para penggemarnya, yakni memberi sebanyak mungkin lagu dalam 1 album. Namun bukan berarti banyaknya lagu menjamin kualitas album itu sendiri. Karena tetap saja, kualitas album ditentukan oleh keseluruhan materi yang ditawarkan dalam album tersebut.

Saya memang penggemar musik Coldplay sejak era Parachutes (2000), A Rush of Blood to the Head (2002), hingga X&Y (2005). Namun di album setelahnya Viva la Vida or Death and All His Friends (2008) saya tidak lagi menjadi penggemar berat musik mereka. Bukan berarti saya tidak suka dengan lagu-lagu milik Coldplay, hanya saja di era itu saya telah bergeser ke ranah nonmainstream (tanpa meninggalkan Coldplay sama sekali tentu saja).

Saat Coldplay meluncurkan album terbaru, saya pun menjadi penasaran seperti apakah isi dari album Mylo Xyloto ini. Album dibuka dengan lagu berjudul sama, Mylo Xyloto. sebuah prolog ambient instrumental yang berdurasi kurang dari 1 menit. Prolog yang cantik memang, mengingatkan akan Life in Technicolor; prolog di album sebelumnya. Lagu kedua digebrak dengan Hurts Like Heaven, sebuah lagu ceria yang dilatari musik synthesizer. Bisa dibilang, lagu kedua ini menjadi petunjuk bagi pendengarnya akan terdengar seperti apa keseluruhan isi dari album ini. Dan ternyata memang benar, hampir sebagian besar lagu di album ini didominasi oleh lagu yang “happy” dan suara synthesizer ketimbang guitar akustik/electrik sebagai pengiringnya.

Jangan terlalu berharap mendengar lagu layaknya In My Place dari album kedua, atau Shiver dari album pertama. Jangan mengharap pula mendengar lagu balada anthemic layaknya Fix You dari album ketiga, atau jangan pula sekali-sekali mengharapkan lagu seperti Yellow. Masa itu telah berlalu, dan sekarang adalah masa Coldplay terbaru. Meskipun ada lagu yang masih setia dengan dominasi suara gitar akustik (seperti Us Against The World dan U.F.O), namun jumlanya pun tidak lebih banyak dari musik yang terdigitalisasi.

Memang era serba digital (atau mungkin lebih spesifik saya sebut era post-myspace) seperti sekarang ini menawarkan banyak sekali musik dan artis yang telah terdigitalisasi. Bahkan artis tersebut tidak berasal hanya dari genre elektronik saja, melainkan dari berbagai genre. Mulai dari pop (Owl City, Ke$ha), akustik (Nevershoutnever!), hingga yang penuh distorsi dan teriakan seperti post-hardcore (A Day to Remember). Dan sepertinya Coldplay telah mengikuti perkembangan jaman dengan sangat baik. Elemen elektronik teraplikasikan dengan pas di album ini. Mungkin jika ada yang namanya genre ‘electronic britpop’, maka seperti inilah jadinya.

Penggemar musik Coldplay pasti akan merasa sedikit aneh dengan suara-suara elektronik tersebut. Mereka setidaknya harus beradaptasi terlebih dahulu sebelum dapat menikmati album Mylo Xyloto dengan santai. Mylo Xyloto memang salah satu album terbaik tahun ini, namun sayangnya bukan album terbaik bagi Coldplay itu sendiri.

Namun meski begitu, musik yang mereka bawakan di album ini tetaplah menyenangkan. Hanya saja ciri musik Coldplay mulai menghilang entah ke mana. Mungkin inilah salah satu cara Coldplay untuk menciptakan citra yang baru. Citra yang lebih segar, lebih muda, dan beradaptasi dengan zaman. Bahkan tidak tanggung-tanggung, Coldplay berduet dengan ikon musik RnB Rihanna (dalam lagu Princess of China). Dan disebutkan pula, dalam lagu yang sama terdapat sedikit sampel milik Sigur Rós yang berjudul Takk. Konspirasi apa ini? Apakah ini pertanda akan datangnya sesuatu yang besar tahun 2012 besok? Jika memang iya, semoga saja itu adalah pertanda yang menyenangkan.

Perpaduan RnB dan Britpop tersebut tentu merombak habis musik Coldplay menjadi bergaya sedikit RnB. Entah apa yang mereka pikirkan, namun hal tersebut seperti mengindikasikan bahwa mereka mencoba menggaet lebih banyak penggemar. Terutama penggemar baru yang berasal dari genre pop RnB dan penggemar berusia belasan tahun.

Dan sepertinya kesuksesan langkah Coldplay menggaet penggemar juga bisa disaksikan saat mereka (jadi) mengadakan konser perdana di Indonesia tahun 2012 besok. Akankah gedung pertunjukan dibanjiri anak-anak ABG? Kemunginan besar iya.

 

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read

Resep Kebahagiaan

Pernah gak sih marah, bete, kesel, atau kecewa pas denger omongan orang lain yang kurang nyenengin? Misal ada omongan tentang sikap kita yang mungkin bagi

Read More »

Pentingnya Skala Prioritas

”The key is not to prioritize what’s on your schedule, but to schedule your priorities.” —Stephen Covey Kita pasti pernah menunda menyelesaikan sesuatu. Alasannya beragam,

Read More »