Pentingnya Skala Prioritas

”The key is not to prioritize what’s on your schedule, but to schedule your priorities.” —Stephen Covey

Kita pasti pernah menunda menyelesaikan sesuatu. Alasannya beragam, mulai dari pekerjaan kantor yang menumpuk, tidak ada mood, atau hal sepele seperti terlalu sering membalas chat WhatsApp dan mengecek media sosial. Seketika kita merasa tidak punya waktu menyelesaikannya. Padahal kita punya 24 jam sehari.

Sejak lama saya ingin memposting tulisan ini ke blog, tapi ada saja hal yang membuatnya tertunda. Tulisan tak kunjung selesai hingga berbulan-bulan lamanya. Ada beragam alasan mengapa saya menunda: pekerjaan kantor yang tak kunjung usai, perasaan tidak mampu, rasa malas, dan distraksi media sosial. Saya selalu berpikir bahwa masih ada esok hari untuk menulisnya. Sayangnya esok hari yang saya maksud tidak kunjung datang sebelum saya benar-benar bertekad meluangkan waktu untuk menyelesaikan tulisan ini.

Sebenarnya yang menjadi alasan kenapa tulisan ini tidak pernah selesai bukanlah tidak adanya waktu. Pada kenyataannya saya punya banyak sekali waktu di depan komputer. Bukan pula kemampuan menulis saya yang minim, toh saya senang membaca dan menuangkan gagasan dalam tulisan. Yang menjadi alasan utama tulisan ini tidak kunjung selesai adalah saya tidak melihat kegiatan menulis tulisan ini sebagai prioritas.

Selama ini saya hanya melihat aktivitas menulis, terutama menulis blog, sebagai kegiatan sampingan, bukan prioritas, sehingga muncul hal lain yang menurut saya perlu segera diselesaikan. Padahal jika saya menempatkan kegiatan menulis blog dalam prioritas pertama, saya akan menemukan waktu untuk menyelesaikan tulisan ini.

Tulisan ini saya tulis seketika setelah saya sampai kantor. Saya segera memprioritaskan tulisan ini dan meninggalkan pekerjaan yang lain: membuka handphone, browsing internet, dan juga mengerjakan garapan kantor yang harus segera diselesaikan hari itu. Ajaibnya, saya menemukan ritme menulis. Apa yang muncul dalam pikiran tertuangkan dengan lancar. Tulisan pun selesai.

Terkadang kita sering keliru menyikapi sesuatu yang penting dengan prioritas. Kita mengganggap apa yang penting dan harus segera diselesaikan adalah prioritas. Padahal hal yang kita anggap harus segera diselesaikan akan senantiasa muncul. Jika kita tidak mengelolanya, kita hanya akan menyelesaikan hal-hal tersebut dari hari ke hari.

Hal penting bisa jadi sebuah prioritas, tetapi sebuah prioritas belum tentu terlihat penting. Pekerjaan kantor adalah hal yang penting. Pekerjaan kantor menjadi prioritas ketika tenggat waktunya adalah esok hari, tetapi belum jadi prioritas jika tenggat waktunya masih dua bulan lagi. Menulis blog mungkin terlihat tidak penting bagi sebagian besar orang. Apalagi, tidak ada tenggat waktu untuk menyelesaikannya. Akan tetapi, menulis blog termasuk hal yang penting bagi saya. Ada alasan tertentu yang menjadikannya penting dalam pandangan saya. Setelah menyadari bahwa memposting tulisan ini adalah prioritas, maka saya pun berhasil menyelesaikan tulisan ini.

Skala prioritas tidak hanya dapat diaplikasikan dalam pekerjaan, tetapi dalam lingkup kehidupan yang lebih luas. Hubungan dengan pasangan maupun keluarga, pertemanan, hingga kesehatan mental dan spiritual, semuanya membutuhkan skala prioritas. Setelah menikah, saya dan istri senantiasa berusaha memprioritaskan hubungan kami. Bukan berarti kami tidak peduli dengan apa yang ada di luar hubungan kami. Namun, dengan skala prioritas yang kami sepakati, kami dapat menempatkan diri saat dihadapkan pada beragam situasi.

Jika kita mengerjakan sesuatu hanya karena dikejar tenggat waktu, bisa jadi kita belum sepenuhnya memberikan prioritas yang jelas dalam hidup. Kita perlu memikirkan sejenak apa saja yang benar-benar menjadi prioritas dalam aktivitas kita. Setelah mengetahui prioritas tersebut, kita dapat bertindak berdasarkan prioritas yang telah kita tetapkan. Prioritas tidak hanya membantu kita menyelesaikan sesuatu, tetapi juga menentukan kualitas hidup yang kita jalani.

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read

”Lampu Merah” Perjalanan

Kehidupan layaknya perjalanan panjang dengan tujuan di dalamnya. Perjalanan tidak selalu mulus, ada saatnya melewati medan berkerikil, berkelok, berbukit, hingga berangin. Dalam perjalanan, kita pun

Read More »