Playing Guitar Helped Me through Difficult Time

Vista Sandy

 

Bagi saya, bermain musik itu sebenarnya tidak perlu pilih-pilih instrumen. Alat musik pertama yang saya mainkan adalah seruling (recorder). Saat itu SMP dan ada pelajaran seni musik yang mengharuskan kami bermain recorder, memainkan lagu-lagu kebangsaan. Ada satu lagu yang saya suka mainkan. Saya tidak tahu judulnya tapi saya belajar memainkan melodinya. Lagu itu diputar di film Card Captor Sakura dan dimainkan Tomoyo dengan recorder-nya.

Tahun terakhir SMP saya mulai belajar organ sebagai tugas kelompok untuk pentas musik yang dinilai guru. Lagu yang kelompok kami mainkan adalah Imagine milik John Lennon dan Untuk Dikenang dari Jikustik. Saya belajar organ dari Ayah. Although he is not a musician, but he can play instruments, mulai dari recorder, organ, piano, sampai gitar. Hebatnya lagi, beliau lebih banyak belajar otodidak. That’s what I envy him. He’s a passionate learner in everything.

Barulah saat SMA saya belajar gitar. Bukan Ayah yang mengajari, tapi my best friend, Anita. She’s Chinese and she’s really good at playing the guitar though she didn’t sing quite well (sorry, Sist). But I enjoyed her performing a guitar show. I only learned basic chords dan nggak greget ngembangin ke complicated ones. Mungkin karena saya terlalu malas dan nggak ada motivasi, cuma sebatas angan-angan. Tapi sampai saat ini sebenarnya masih ada keinginan untuk bisa main gitar akustik. Sayang gitarnya nggak supported. It’s too old to be played dan saya sudah nggak punya waktu untuk itu. How sad. Any advice?

Saya sudah lupa lagu yang pertama saya mainkan saat belajar gitar, tapi lagu yang cukup sering saya mainkan saat awal bisa sedikit memainkan gitar adalah lagu-lagu milik Avril Lavigne. Chord-nya simpel dan she was the reason why I should train my self to play guitar. She made me had a thought that a guitar also looks cool and sounds really good in a girl’s hand. I cannot specifically mention one of her songs I firstly played, but lagu yang saya suka mainkan adalah Tomorrow. Melodi dan liriknya bikin baper.

For me, guitar was more like a companion. I found a perfect companionship by playing it. At least it made me feels better every time I didn’t feel good or when I didn’t feel motivated or when I felt alone. Yeah, I was such a loner and until today still. I didn’t like hanging out with friends. I didn’t make many friends. I hate crowds and parties (how anti-social I am). My friends are most likely those who has similar interests and thoughts as I do. However I don’t completely avoid society actually. I like doing some kind of social activities that make me feel that I can bring benefits for others with my knowledge and service. My introversion is just for some certain circumstances.

I think playing guitar ever helped me through difficult time. I ever fell into a hopeless romantic and I’m not going to talk about it. But, playing guitar could always keep me sane, content, and motivated. I am the kind of person that can be easily corrupted by insanity, uncertain feelings, and despair.

Ada satu lagu dari John Mayer berjudul War of My Life yang menurut saya cukup mendeskripsikan hidup saya sampai detik ini. It’s just that I’m now still struggling for a settle life and living and fighting for the dreams that I’ve been trying to achieve. And I think everybody should go to war of their life and bravely fight for their goals and victory.

Kalau ada kesempatan, saya ingin bermain gitar di depan anak-anak yang sedang dalam kesedihan atau kesulitan dan kondisi keterbatasan. Setidaknya saya ingin menghibur mereka, karena mereka berhak untuk hidup dan tumbuh dengan bahagia. Saya pernah terlibat dalam lingkungan kerja dan tempat tinggal yang menghadapkan saya dengan anak-anak yang dengan segala keterbatasannya berjuang untuk bisa meraih masa depan.

Saya pernah memiliki peserta didik yang sangat luar biasa bersemangat untuk belajar dan meraih mimpi. Sayangnya kondisi ekonomi keluarga mereka tidak mendukung. Mau tidak mau mereka hanya bisa menggantungkan mimpi-mimpi mereka dalam angan-angan saja.

Impian mereka sebenarnya sangat sederhana, bisa segera mendapat pekerjaan agar bisa hidup mandiri, tidak membebani orang tua, dan membahagiakannya. Bila suatu saat nanti mereka cukup memiliki tabungan, mereka ingin kuliah dengan uang tabungan sendiri dan mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Dalam masa sulit, they still find hopes and happiness.

I’ll be so glad if I can perform in front of them just to be one of the reasons why they have to feel happy. Because they deserve to be happy.

 

 

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read

Pentingnya Skala Prioritas

”The key is not to prioritize what’s on your schedule, but to schedule your priorities.” —Stephen Covey Kita pasti pernah menunda menyelesaikan sesuatu. Alasannya beragam,

Read More »