Resep Kebahagiaan

Pernah gak sih marah, bete, kesel, atau kecewa pas denger omongan orang lain yang kurang nyenengin? Misal ada omongan tentang sikap kita yang mungkin bagi mereka jadi bahan candaan. Kita pun tersinggung sampai kepikiran berhari-hari. Padahal yang ngomong udah lupa dan gak merasa salah sama sekali.

Wajar kok ketika kita kepikiran, karena manusia adalah makhluk yang suka menilai. Ketika ada omongan kurang enak tentang diri kita, kita langsung kritis menilai diri sendiri. Tanpa adanya pengendalian diri, kekritisan itu bisa bikin kita jadi kepikiran macem-macem. Ujungnya kita jadi marah, bete, kesel, kecewa, dan tidak bahagia.

Padahal sebenarnya kita baik-baik saja. Gak ada sama sekali yang salah sama diri kita. Tapi karena ada yang “ngomentarin”, kita jadi hanya memperhatikan apa yang dikomentarin saja. Sayang banget kan hidup hanya dihabiskan ngerasain kesedihan kayak gitu?

Lalu gimana agar “gak terpengaruh” sama omongan orang lain yang kurang sedap? Pertama, pahami dulu bahwa kita gak bisa mengatur omongan orang. Itu hal yang mustahil. Jadi jangan berusaha mengendalikan secara total tindakan orang lain. Yang ada malah kita jadi dapat lebih banyak ketidakbahagiaan lagi.

Kita hanya bisa mengendalikan secara total pikiran kita sendiri. Emosi/perasaan dan pikiran saling berkaitan. Jadi kalau kita bisa mengelola pikiran dengan baik, otomatis emosi/perasaan pun akan lebih terkendali.

Jika kita masih kepikiran dan “tersinggung” sama apa yang orang lain omongkan (walaupun itu kenyataan), berarti kita masih terikat dengan entitlement yang mereka berikan. Ketidakbahagiaan selalu datang ketika kita terlalu terikat dengan sesuatu. Terlalu terikat sama mantan, gak bisa move on. Terlalu terikat sama orang lain, gak punya kehidupan sendiri. Terlalu terikat sama jam tangan kesayangan, bakal sedih sejadi-jadinya ketika jam tersebut rusak. Terlalu terikat sama entitlement yang diberikan orang lain, kita jadi tidak yakin dengan diri kita yang sebenarnya.

Kuncinya adalah merelakan keterikatan kita akan sesuatu; termasuk keterikatan tentang image diri yang sempurna atau image yang diberikan orang lain yang menyatakan bahwa kita tidak sempurna. Terimalah kenyataan apa adanya tanpa harus terikat dengan sesuatu di luar kita. Dengan hal itulah kita bisa membebaskan diri dari image palsu yang diciptakan oleh pikiran kita sendiri.

Ketika image palsu telah berhasil dilepaskan, omongan orang yang tidak sedap pun mudah hadir dan berlalu begitu saja. Malahan kita bisa berterima kasih apabila yang disampaikan berpotensi membaikkan diri. Kita bisa tahu kekurangan diri dan memperbaikinya. Bukankah hidup adalah perjalanan panjang untuk membaikkan diri?

 

The root of suffering is attachment.” -Buddha

 

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018 All rights Reserved. Powered by Elementor.
Design by pondrafee.