Rooftoppers: Para Penghuni Atap

Bayangkan August Rush dengan tokoh gadis puber layaknya Ellie dari game The Last of Us. Kira-kira seperti itulah kisah Sophie dalam fiksi Rooftoppers. Entah kenapa buku ini menjadi favorit fiksi yang pernah saya baca tahun 2016 kemarin; plot yang sederhana, kisah yang tidak terlalu lama, tokoh gadis yang menarik, musik, dan sedikit sentuhan imajinasi. Terlebih belum banyaknya penggemar fiksi yang membaca buku ini menjadi pelengkap selengkap-lengkapnya mengapa kisah ini begitu istimewa.

Bagi saya pribadi, menemukan kesenangan ketika membaca buku yang telah dibaca jutaan kepala itu sudah biasa. Namun menemukan kisah menarik dari suatu karya yang belum terkenal barulah tak ternilai harganya. Sama seperti ketika menemukan musik yang bahkan teman saya pun akan bilang, “seleramu aneh banget!”

Pertama kali membaca judul Rooftoppers dan melihat cover buku ini, pikiran saya pun langsung membayangkan seseorang yang duduk di atap menatap cakrawala, memikirkan harapan terbentang di ujung sana. Sangat dreamy dan INFP sekali. Bahkan ketika membaca judul tersebut pun langsung tergambar detail di dalam otak seperti apa kisah ini nantinya. Hal yang istimewa karena hanya ada beberapa nama yang berhasil mengaktifkan sistem otak seperti itu. Pertama ketika membaca nama band asal Newcastle, Inggris, Lanterns on the Lake, dan yang kedua adalah Rooftoppers ini.

Berawal dari Boks Cello

Tidak ada yang percaya bahwa ibu Sophie selamat dari kecelakaan kapal yang terjadi ketika Sophie masih bayi. Sophie kecil terapung-apung dalam boks cello milik salah satu pemain band di kapal tersebut. Charles, pengasuh yang dulu telah menyelamatkannya, pun meragukan ucapan Sophie. Kemungkinan selalu ada dan Sophie tidak kehilangan harapan untuk dapat bertemu kembali dengan ibunya.

Saat lembaga kesejahteraan melayangkan surat kepada Charles agar mengirimkan Sophie ke panti asuhan, mereka berdua memutuskan untuk melarikan diri ke Paris. Berbekal alamat yang tertulis di boks cello penyelamat nyawa Sophie, mereka berdua berniat membuktikan keyakinan Sophie bahwa ibunya masih hidup.

Sophie bertemu Mateo, salah satu penghuni atap yang telah lama hidup di atap-atap Kota Paris. Setelah mendengar kisah Sophie, ia bersedia membantu Sophie mencari jejak keberadaan ibunya. Petualangan Sophie menyusuri atap-atap Kota Paris pun akhirnya dimulai.

Plot kisah ini memang terbilang sederhana (bisa dibilang sedikit cepat), namun sepertinya kesederhanaan itulah yang menjadikan kisah ini enak diikuti. Saya pun merasa telah mengenal Sophie jauh sebelum membaca buku ini. Entah karena penggambaran sang tokoh pada sampul depan yang menyerupai seseorang atau sifat-sifatnya yang mengingatkan saya akan seseorang? Saya tidak yakin. Yang pasti kedekatan inilah yang membuat saya semakin merasuk ke dalam isi cerita.

Saya pun membayangkan seandainya fiksi ini nanti diangkat ke layar lebar. Cellist Alana Henderson sepertinya tepat mengisi keseluruhan lagu latarnya. Indah dan menawan!

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read