Sing, Sing, Sing!

Danar Prasetyo Abdurachman

 

No matter what they tell you, no matter what they do, what you believe … it’s true.”

(Boyzone – No Matter What)

Kalau dirunut ke belakang, memang aku tumbuh di keluarga pencinta musik. Mungkin itu juga yang memengaruhi diriku mengapa aku suka musik. Buatku, menyanyi bisa diartikan sebagai ekspresi diri si penyanyi itu sendiri. Dari kecil, semua keluargaku bilang kalau aku memang ada bakat ke musik, yang awalnya memang nggak aku peduliin (secara masih kecil). Tapi entah kenapa mulai sejak SD aku bisa ngerasain gimana nyamannya nyanyi. Makin ke sini aku malah jadi semakin nyaman.

Dulu aku sering dengarin temen-temen yang kadang out of tune saat mereka coba bernyanyi. Dulu pernah juga ngejek dalam hati, ”Ni orang kagak bisa nyanyi ya?” Tapi semakin ke sini aku jadi sadar kalau aku bersyukur banget Tuhan menitipkan bakat yang luar biasa ini kepadaku. Tanpa les vokal atau pendidikan bernyanyi, aku mampu bernyanyi dengan baik (meskipun belum sejago Sammy Simorangkir atau Afgan). Dan aku jadi merasa bersalah pada teman-teman karena pernah berujar seperti itu dalam hati.

Bakat menyanyi ini juga membuatku semakin paham bahwa kita harus bisa menghargai dan mensyukuri apa yang telah dianugerahkan oleh Tuhan pada kita. Akhirnya menyanyi pun tidak hanya jadi sarana menghibur diri sendiri, namun juga bentuk rasa syukur pada Tuhan. Semoga orang yang dengerin juga ikut senang dan terhibur.

Sebenarnya dalam hidupku selama ini banyak pengalaman berkesan yang gak lepas dari bernyanyi. Aku masih ingat pengalaman pertama nyanyi di panggung pas zaman SD. Temen-temen pada bawain lagunya Dewa, Sheila on 7, sama Padi. Aku malah nyanyi I Have a Dream-nya Westlife. Satu-satunya anak ingusan yang nyanyi lagu bahasa Inggris kala itu, hehe.

Aku juga masih ingat bagaimana beberapa teman kuliahku mendukungku untuk kembali bernyanyi. Itu terjadi saat di mana aku benar-benar merasa nggak enjoy dalam bernyanyi. Tapi merekalah yang menyadarkanku, ”Hey Dude, you got some ears to be pleased!!” Akhirnya aku pun bisa kembali nyaman bernyanyi.

Each of us has songs in our playlist, whether sad or happy. Our job is singing those songs, feeling the groove, and letting our body sway along with the music. Life is a precious gift, so enjoy every moment of your life before it lasts.

 

 

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read

Berawal dari Visualisasi

Kami selalu berpikir bahwa visualisasi ibarat mengintip masa depan. Apa yang dibayangkan berkemungkinan hadir di masa mendatang. Sebelumnya kami pernah membayangkan pengalaman ke pantai. Menginjak

Read More »