The Best of Ash by Ash

Band yang berasal dari Irlandia ini memang kurang begitu bergaung (terutama di Indonesia) layaknya band-band mainstream Irlandia lain seperti U2, The Cranberries, maupun The Corrs. Tidak pula lebih populer dan terkenal seperti band dari pulau seberang seperti Coldplay, Oasis, ataupun Blur. Bahkan, meski berlabel britrock, namun kepopuler band ini pun masih kurang dibanding band bergenra serupa seperti Stereophonics atau yang lebih muda seperti Arctic Monkeys. Mungkin karena lagunya yang memang sedikit kurang ‘nendang’, ditambah sorotan media yang minim, menjadikan para pendengar awam harus berusaha lebih keras mencerna musik yang mereka suguhkan dan akhirnya menjadi fan mereka.

Namun meski kurang populer dibanding band-band yang telah disebutkan di atas, bukan berarti band ini tidak layak mendapat tempat di hati. Bahkan sebaliknya, band ini mendapat tempat yang sangat dalam hati fan mereka. Sepertinya kekurangpopuleran mereka menjadi nilai positif tersendiri bagi band tersebut. Dengan level kepopulerannya, secara tidak langsung telah menyaring fan mereka ke dalam dua kubu: fan setia dan fan abal-abal.

Saya memang penggemar Ash sejak di bangku SMP, dan dilanjutkan di bangku SMA. Bahkan saya pun membeli 3 album mereka, tentu saja dengan perjuangan. Tetapi saya sendiri kurang yakin, apakah saya termasuk fan setia atau tidak, karena saya lebih senang mendengarkan lagu-lagu mereka saat sang gitaris cewek, Charlotte Hatherley, masih bergabung dengan band tersebut. Namun label ”setia” atau ”tidak” bagi saya tidaklah penting, karena yang terpenting saya menikmati musik yang mereka ciptakan dan saya tumbuh besar bersama dengan musik mereka.

Setelah sekian lama tidak mengikuti berita terbaru dari Ash, tiba-tiba saya dikejutkan oleh berita akhir Desember ini. Ya, album kompilasi terbaru Ash yang berjudul The Best of Ash resmi dirilis. Sesuai dengan judul albumnya, album ini memberikan 19 lagu kompilasi yang terdiri dari single terbaik mereka sejak album pertama hingga album terakhir (album ke-7).

Yang lebih mengejutkan lagi (dalam artian sebaliknya), album tersebut didominasi oleh lagu-lagu dari 5 album pertama. Kenapa saya bilang mengejutkan? karena 4 dari 5 album tersebut pernah dirilis di album kompilasi (greatest hits) sebelumnya: Intergalactic Sonic 7″ (2002). Dan hanya ada 7 lagu dari album terbaru yang dimasukkan; 3 lagu dari album Meltdown (2004) (saat Charlotte masih menjadi gitaris), dan tiap dua lagu dari album Twilight of the Innocence (2007) dan A-Z Series (2010). Bahkan lagu Polaris dari Twilight of the Innocence pun tidak dimunculkannya. Sungguh sangat disayangkan.

Saya jadi menyimpulkan apakah mereka tidak produktif lagi dalam menciptakan lagu? Sehingga mereka lebih banyak merilis ulang lagu-lagu lama ketimbang merilis materi baru (atau setidaknya memasukkan lebih banyak lagu-lagu dari 2 album terakhir). Memang hal tersebut sah-sah saja, mengingat lagu-lagu lawas mereka lebih enak didengarkan daripada lagu-lagu teranyar. Namun hal inilah yang menjadikan album The Best tampak seperti album pengulangan Intergalactic. Tidak ada sesuatu yang wah, karena materi-materi yang dikeluarkan 80% sama semua.

Jika dikatakan tidak produktif lagi, mungkin terkesan sedikit kasar, karena nyatanya album A-Z Series itu sendiri memiliki lagu baru yang jumlahnya seperti jumlah huruf abjad yang kita kenal. Jumlah tersebut bisa menjadi bukti bahwa mereka masih produktif dalam menciptakan lagu. Namun apa yang salah? Kenapa mereka tidak memasukkan sedikitnya 5 lagu dari album tersebut? Saya memang tidak tahu dengan pasti alasannya, tapi menurut saya pribadi, mereka menganggap bahwa lagu-lagu dari 2 album terakhir kurang layak dipasarkan; mengingat lagu-lagu di 2 album terakhir telah kehilangan gregetnya. Seperti layaknya band itu sendiri yang telah kehilangan gregetnya setelah ditinggal sang gitaris cewek Charlotte Hatherley. So, tidak mengherankan jika pada akhirnya mereka lebih percaya diri merilis ulang single-single terdahulu yang telah dikenal baik oleh penggemarnya (baik penggemar setia maupun bukan) daripada merilis single-single teranyar yang hanya dipahami oleh penggemar setia mereka saja.

 

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018 All rights Reserved. Powered by Elementor.
Design by pondrafee.