Tidak Sekadar Guru, tapi Pendidik

Asrul Right | @asrulright

Saya ingin memulai tulisan sederhana ini dengan satu pertanyaan kunci, apa itu pendidikan? Ya, saya yakin setiap orang punya persepsi yang berbeda-beda dalam memaknai pendidikan. Namun, perbedaan sepertinya tidak akan jadi masalah, karena setiap orang akan menginterpretasi makna pendidikan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman masing-masing. Semua bermuara pada maksud yang sama: pendidikan adalah kunci untuk membuka cakrawala pengetahuan.

Nah, jika pertanyaan tersebut ditujukan kepada saya, saya akan menjawab bahwa pendidikan itu adalah sebuah transformasi diri, sebuah before-after. Dari kita yang tidak tahu, bertransformasi menjadi tahu, dari kita yang tidak mampu berpikir kritis, bertransformasi menjadi seorang pribadi yang memiliki keterampilan kritis.

Pada intinya, saya lebih memilih memaknai pendidikan sebagai tranformasi diri. Mengapa? Karena dengan makna seperti itu, pendidikan bukan lagi hanya terbatas pada siswa saja, tetapi guru pun harus melakukan transformasi di karier keguruannya. Saya yakin guru-guru yang mampu bertransformasi akan melahirkan siswa-siswa yang hebat.

Ketika seorang guru sudah memaknai pendidikan sebagai sebuah transformasi diri, maka secara otomatis guru tersebut telah masuk dalam kategori guru ideal. Mengapa? Karena guru transformatif akan selalu mengikuti perkembangan zaman, selalu meng-upgrade keterampilan mengajar, merencanakan dan membuat program unggul di sekolah, hingga menjadi problem solver bagi siswanya terutama ketika ada siswa yang tidak mampu memahami sebuah konsep dalam pelajaran. Bahkan sampai pada level tempat curhat bagi siswa. Yupz, saya percaya bahwa saat ini siswa tidak hanya butuh sosok pengajar dan pendidik, mereka juga butuh sosok guru yang mampu memahami keinginan mereka.

Yang ingin saya katakan adalah semua yang saya utarakan di atas adalah mood booster saya menjadi seorang guru. Padahal jujur saya bukan seorang sarjana lulusan jurusan keguruan. Namun, kesenangan saya dalam mengajar dan mendidik mengantarkan saya pada sebuah kesimpulan, teaching is my life.

Ketika saya berprinsip seperti itu, saya telah siap menikmati suka dan duka dalam profesi ini. Bahkan ketika harus ditempatkan di daerah terpencil dengan akses jalan seadanya, hidup di pegunungan yang cukup dingin, harus berjalan sejauh 4 km setiap hari ke sekolah, atau harus melewati hutan lebat. Itu semua bukan lagi beban yang perlu saya risaukan. Mungkin itulah yang disebut passion. Mudah-mudahan itu memang pertanda saya telah menemukan passion saya.

Sekarang ini saya benar-benar punya minat besar pada dunia pendidikan. Menulis buku motivasi tentang guru adalah sebuah kesenangan tersendiri bagi saya. Kalau suatu ketika ada yang tanya ke saya harapan saya pada dunia pendidikan, saya akan menjawab bahwa pendidikan adalah hal wajib bagi seluruh rakyat Indonesia, karena itu semua telah menjadi amanat undang-undang.

Saya berharap pendidikan di Indonesia bisa semaju pendidikan di Korea yang sudah diakui oleh dunia. Mungkin impian saya terlalu muluk, tetapi saya percaya hal tersebut dapat terwujud. Prinsip dasarnya adalah guru-guru diberi pelatihan dan anak-anak didorong untuk mengembangkan talenta mereka, sedangkan pemerintah memfasilitasinya dengan membuat wadah-wadah kreativitas bagi anak, sehingga tersedia tempat untuk menyalurkan talenta terpendam anak. Yang terpenting adalah memberikan pendidikan yang seadil-adilnya kepada seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke tanpa terkecuali. Dengan cara seperti ini, kesatuan bangsa akan semakin merekat.

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read

Sing, Sing, Sing!

Danar Prasetyo Abdurachman   ”No matter what they tell you, no matter what they do, what you believe … it’s true.” (Boyzone – No Matter

Read More »