When We Awake, All Dreams Are Gone by L’alphalpha: Terbang Sejenak ke Alam Mimpi

Hari Minggu, tepatnya tanggal 22 Januari 2012, saya bersama 2 orang teman berkesempatan menonton konser L’alphalpha. Meski bukan konser besar, namun jujur saya sangat terpukau dengan permainan musik band dari Jakarta tersebut. Dengan fasilitas ala kadarnya saja mereka mampu bermain dengan sepenuh jiwa. Alhasil, mereka mampu mengoptimalkan alat-alat musik yang ada.

Selain itu, musik mereka yang megah dan mengawang-awang khas post-rock Islandia menjadi alasan tersendiri mengapa saya terpukau akan konser mereka. Alunan merdu kombinasi gitar, piano, synthesizer, bass, biola dan drum berpadu dengan sangat apik dan menciptakan suasana yang megah dan indah layaknya sebuah mimpi yang menembus alam bawah sadar. Tak ayal, konser yang terdiri dari 5 lagu tersebut pun memiliki alur yang jelas: pembukaan, klimaks, dan resolusi (resolusi tersebut juga menjadi klimaks di bagian akhir).

Sesampai di rumah pun, saya masih saja terngiang-ngiang dengan musik L’alphalpha. Hingga akhirnya saya memutar album mereka dan mendengarkan berulang kali. Dan kesempatan kali ini saya ingin mereview debut album L’alphalpha yang berjudul When We Awake, All Dreams Are Gone (2011).  Sebuah debut album yang layak diacungi jempol.

Dari judul album dan cover album, yang bergambar anak-anak mendengarkan bedtime stories, telah memberikan petunjuk seperti apa album ini. Sebuah album yang sangat dreamy dan kental sekali dengan nuansa mimpi dan imajinasi. Bukan sebuah album lullaby memang, namun album ini bisa dipakai juga sebagai teman pengantar tidur. Suara vokal yang sedikit lirih dan terkesan humming (yang membuat saya berpikir akan gabungan dari vokalis band post-rock Immanu EL dan band alternative rock Mew), memberikan efek menghipnotis, misterius, serta merileksan pikiran dan otak yang sedang penat. Harmonisasi musik yang sedemikian rupa juga menciptakan efek nan indah dan menenangkan.

Bermain di ranah post-rock, band yang terinspirasi musik Islandia ini memang menyuguhkan lagu mengawang-awang yang kental akan nuansa Sigur Rós. suara biola yang mejadi instrumen khas dalam musik L’alphalpha mampu membuat perasaan membumbung tinggi layaknya terbang ke langit. Sedangkan permainan gitar yang mengandalkan arpegio mengingatkan akan pioner post-rock dari Texas, Explosions in the Sky. Bisa jadi musik L’alphalpha yang terangkum dalam album ini merupakan akumulasi dari gabungan kedua band post-rock tersebut.

Album dimulai dengan sebuah intro pendek, “What you’re going to hear now, is a story about dreaming.” Sebuah kalimat pembukaan laksana cerita bedtime stories. Lagu berikutnya berjudul The Flash pun menjadi lagu pembuka yang ringan dan menenangkan. Dominasi petikan gitar akustik dan piano yang dimainkan dalam tempo lambat menjadikan lagu ini layaknya pintu masuk ke dalam dunia mimpi.

Lagu berikutnya berjudul Peace, Completeness, and Welfare (Silence). Masih dengan tempo yang lambat, lagu ini mulai menyediakan suara vokal lirih dan sebuah lirik. Sepertinya, perjalanan mimpi dimulai dari lagu ini, karena lagu-lagu berikutnya merupakan kelanjutan dari lagu yang satu ini. Lagu berikutnya seperti Fireworks but I Still Had a Reason to Smile, dan Clouds Are Gone Now I can See the Sky, Clearly saling berkaitan dan membentuk suatu jalinan cerita tersendiri yang terkait satu sama lain. Akhirnya, musik yang megah dan mencapai klimaks pun mampu digapai dalam ketiga lagu yang saling berkesinambungan tersebut.

L’alphalpha juga berkesperimen dengan mainan-mainan anak di album ini. Salah satunya ada dalam lagu berjudul Comet’s Tail. Eksperimen inilah yang menjadikan musik L’alphalpha terdengar unik dan menarik. Instrumen mainan tersebut juga menjadi sebuah penanda tersendiri bahwa memang album ini sangat identik dengan nuansa mimpi yang menjadi tema sentral dalam album When We Awake, All Dreams Are Gone (2011).

Secara keseluruhan, album ini sangat layak didengarkan, baik saat kita sedang terjaga atau akan memejamkan mata. Lima belas lagu dalam album ini pun mengalir dengan sendirinya, dan anda pun akan serasa terbang melayang mendengarkan album L’alphalpha. Dan saat lagu terakhir selesai disertai kalimat terakhir, “Do you want to listen my story? I would love too.” Kita pun tertarik untuk mendengarkan album ini lagi dari awal. Atau malah menanti-nanti cerita berikutnya yang mungkin diceritakan di album kedua.

 

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More to Read